Perlombaan Penggunaan Senjata Nuklir pada Masa Perang Dingin

Pada masa Perang Dingin terjadi perlombaan senjata nuklir antara Blok Barat dan Blok Timur. Perlombaan senjata nuklir tersebut terjadi antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Selama berlangsungnya perlombaan senjata nuklir tersebut kedua belah pihak telah membangun pusat-pusat peluncuran senjata nuklir di berbagai negara yang ada di bawah pengaruh kedua negara tersebut. Jenis-jenis senjata nuklir terebut di antaranya meliputi jenis senjata nuklir yang menjangkau antarnegara, bahkan menjangkau antarbenua.
Perlombaan Penggunaan Senjata Nuklir pada Masa Perang Dingin

Perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet telah menimbulkan ketegangan di masyarakat dunia yang khawatir akan meletusnya perang nuklir yang dahsyat. Bahaya yang akan ditimbulkan bila terjadi perang akan sangat dahsyat dan bisa membahayakan kelangsungan hidup umat manusia dan makhluk lainnya. Misalnya, ketika reaktor nuklir Chernobyl meledak pada tanggal 26 April 1986. Bencana tersebut telah mengakibatkan ratusan orang terkontaminasi zat radioaktif, puluhan orang meninggal dan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi.

Untuk mengurangi meningkatnya perlombaan senjata nuklir, PBB membentuk Atomic Energy Commision yang bertujuan mencari jalan dan cara untuk mengembangkan penggunaan tenaga atom untuk maksud-maksud damai dan mencegah penggunaan senjata nuklir untuk tujuan-tujuan perang.
Komisi tersebut pada akhir Desember 1946 menyetujui usul Amerika Serikat untuk mengadakan pengawasan dan pengaturan-pengaturan dengan maksud untuk mencegah produksi senjata-senjata atom yang dilakukan diam-diam. Uni Soviet keberatan dan mengusulkan pengurangan persenjataan, namun usul tersebut ditolak Amerika Serikat. Kemudian Uni Soviet memveto usul Amerika Serikat pada sidang Dewan Keamanan PBB (1947).

Pada tahun 1949 Uni Soviet menguji coba peledakan bom atom yang pertama. Pada tahun 1950 Presdien Amerika Serikat, Harry S. Truman memerintahkan pengadaan program darurat bagi penelitian bom hidrogen. Penelitian tersebut berhasil dan diuji pada bulan November 1952. Sembilan bulan kemudian Uni Soviet juga telah mampu membuat bom hidrogen sendiri.

Perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet menimbulkan kekhawatiran dan ketegangan bagi dunia. Sampai tahun 1983, perbandingan kekuatan nuklir Uni Soviet lebih unggul daripada Amerika Serikat. Dalam hal kekuatan nuklir medan (theater nuclear), yaitu rudal dan pesawat pengebom yang digunakan untuk menyerang, Uni Soviet memiliki keunggulan yang nyata. Keunggulan tersebut diperkuat dengan kemampuan dalam senjata konvensional. Untuk setiap jenis senjata, kecuali rudal antitank, Uni Soviet dan sekutunya memiliki keunggulan yang meyakinkan.
Kekhawatiran besar selama berlangsungnya Perang Dingin adalah resiko terjadinya eskalasi (peningkatan) penggunaan senjata nuklir tidak pernah digunakan pada masa Perang Dingin. Kedua negara adidaya tersebut tidak hanya bersaing dalam dalam persenjataan nuklir dan militer, tetapi juga kedua negara adidaya tersebut menujukkan kekuatannya. Di bidang teknologi militer pun keduanya saling unjuk kecanggihan.

Senjat nuklir dan persaingan militer bukan merupakan satu-satunya fakta teknologi pasca Perang Dunia II. Banyak temuan teknologi pada masa Perang Dingin yang digunakan dalam ruang lingkup yang lebih luas dan tidak hanya terpusat untuk kepentingan perang. Perkembangan revolusi rekayasa elektronika mislanya telah menciptakan suatu dunia baru teknologi komputer, kendali jarak jauh, dan sarana komunikasi modern.

2. Dampak Perang Dingin

Berikut beberapa dampak adanya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet bagi dunia internasional.
a. Dunia menjadi tercekam, hal ini dikarenakan adanya pertentangan antara Blok Barat dan Blok Timur.
b. Dunia seolah-olah terpecah menjadi dua, yakni Blok Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur di bawah pimpinan Uni Soviet.
c. Untuk kepentingan politik, ekonomi, dan militer kedua negara adidaya menjalankan politik pecah belah, negara yang menjadi sasaran politik pecah belah adalah Jerman, Korea, dan Vietnam.
3. Usaha meredakan Perang Dingin
Setelah terjadi ketegangan dalam Perang Dingin, kedua negara adidaya berupaya mengadakan detente (pengurangan ketegangan), bahkan menghentikan ketegangan. Detente adalah istilah diplomatik yang digunakan untuk menunjuk situasi yang melemah dari suatu ketegangan antara Blok Barat dan Blok Timur. Detente didasarkan atas ide peaceful coexistence (hidup berdampingan secara damai). Adapun tujuan dari detente adalah untuk menghindarkan terjadinya perang nuklir. Periode peredaan ketegangan ini dapat ditentukan dengan perubahan strategi dan taktik nasional ataupun dengan perjanjian formal.
a. Usaha Kedua Negara Adidaya
Untuk meredakan Perang Dingin dilakukan perundingan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet dengan melalui Strategic Arms Limitation Talks (SALT) atau Perundingan Pembatasan Persenjataan Strategis dan Strategic Arms Reduction Treaty (START) atau Perundingan Pengurangan Persenjataan Strategi.
Perundingan SALT dapat berlangsung dengan baik karena antara Uni Soviet dan Amerika Serikat sama-sama mempunyai iktikad untuk menghindari perang nuklir yang membahayakan umat manusia. Secara umum Perundingan SALT ini bertujuan:
1) memperkecil kemungkinan terjadinya perang nuklir.
2) Apabila perang tidak dapat dihindarkan, diharapkan akibatnya tidak terlalu menghancurkan, menghemat biaya pertahanan, dan
3) Mencegah terjadinya perlombaan senjata strategis.
Pada kurun waktu tahun 1968-1982 telah dilakukan upaya meredakan Perang Dingin dengan mengurangi, membatasi, dan memusnahkan persenjataan nuklir. Bentuk-bentuk persetujuan yang dicapau sebagai berikut.
1) Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (Nonproliferation Treaty), yang dilaksanakan pada tahun 1968 diikuti oleh Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet. Dalam pertemuan ini disepakati tidak akan menjual senjata nuklir atau memberikan informasi kepada negara nonnuklir.
2) Perjanjian Pemabatasan Persenjataan Strategis (Strategic Arms Limitation Taks/SALT I). Perjanjian SALT I ditandatangani pada tanggal 26 Mei 1972 pleh Richard Nixon (presiden Amerika Serikat) dan Leonid Brezhnev (sekjen Partai Komunis Uni Soviet). Dalam perjanjian ini disepakati angtara lain sebagai berikut.
a) Pembatasan terhadap sistem pertahanan antipeluru kendali (Anti-Ballistic Missile/ABM).
b) Pembatasan senjata-senjata ofensif strategi, seperti Inter-Continental Ballistic/ABM). (ICBM = peluru kendali balistik antarbenua) dan Sea-Launched Ballistic Missile (SLBM = peluru kendali balistik yang diluncurkan dari laut/kapal). SALT II dimulai pada bulan November 1972 di Jenewa, Swiss, dan baru berhasil ditandatangani oleh Jimmy Carter  (Amerika Serikat) serta Leonid Brezhnev (Uni Soviet) di Wina pada tanggal 18 Juni 1979.

3) Perjanjian Pengurangan Persenjataan Strategis (Strategic Arms Reduction Treaty/START). 


Perjanjian ini dilakukan pada tahun 1982 dengan disepakati bahwa kedua negara adidaya akan memusnahkan persenjtaan nuklir yang dapat mencapai sasaran jarak menengah.
Upaya untuk menghindari bahaya perang nuklir juga diadakan oleh negara-negara lain yang tidak memiliki persenjataan nuklir. Negara-negara tersebut khawatir, wilayahnya akan menjadi sasaran ataupun salah sasaran akibat perang nuklir. Usaha untuk mengamankan tersebut seperti yang dilakukan oleh negara-negara anggota ASEAN. Para anggota ASEAN berharap wilayah Asia Tenggara benar-benar tidak dipakai sebagai ajang percobaan dan perang nuklir. Kesepatakan tersebut tertuang dalam perjanjian yang disebut Persetujuan Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (Southeast Asian Nuclear Weapons Free Zone/SEANWFZ) yang ditandatangani pada tahun 1955 di Bangkok, Thailand.
b. Usaha Negara Berkembang
Upaya peredaan Perang Dingin yang berarti menghindari perang nuklir juga dilakukan oleh negara-negara yang sedang berkembang. Negara-negara tersebut sebagian besar belum lama mendapatkan kemerdekaan, sehingga sangat mencemaskan akan terjadinya perang nuklir. Usaha negara-negara berkembang tersebut dengan mengadakan berbagai konferensi dan membentuk forum kerja sama seperti Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 dan forum kerja sama Gerakan Nonblok.
c. Usaha PBB
PBB juga berusaha menghindarkan perang nuklir untuk keamanan internasional. Usaha PBB ini dimulai sejak tahun 1968. Wujud nyata usaha PBB dalam mengurangi dan menghindarkan perang nuklir tertuang dalam Resolusi Nomor 255 yang memuat seruan kepada Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk membantu negara-negara nonnuklir yang menjadi korban perang nuklir.

a. Ruang Angkasa

Dalam bidang eksplorasi antariksa, langkah spektakuler yang pertama kali ditunjukkan adalah dengan menciptakan pesawat Sputnik I tanpa awak kapal yang diluncurkan Uni Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957. Sputnik I tersebut merupakan satelit pertama buatan Uni Soviet. Setelah peluncuran Sputnik I, terjadilah perlombaan dalam bidang antariksa antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Setelah peluncuran Sputnik I, diikuti oleh peluncuran Sputnik II yang membawa seekor anjing, kemudian Amerika Serikat mengimbangi dengan meluncurkan Explorer I (1958), Eplorer II, Discover, dan Vanguard. Uni Soviet mengungguli lagi dengan meluncurkan Lunik dan berhasil didaratkan ke bulan. Amerika Serikat menandingi lagi dengan pendaratan manusia di bulan.
Berikut tahapan perkembangan eksplorasi pesawat antariksa.
1) Meningkatkan Daya Dorong Roket
Untuk menempatkan satelit ke orbit dan pemeriksaan penggunaan satelit untuk keperluan kommunikasi, dilakukan peningkatan daya dorong roket. Fungsi lainnya yaitu mengamati keadaan udara, memantau untuk keperluan militer, dan survei topografis dan geologis.
2) Program Peluncuran Pesawat Luar Angksa Berawak.
Program peluncuran pesawat ruang angkasa berawak diawali kosmonaut Rusia, Yuri Gagarin pada tanggal 12 April 1961 dengan pesawat Vostok I yang berhasil mengitari bumi selama 108 menit. Peluncuran pesawat ini memperlihatkan penguasaan masalah yang dapat membawa pesawat dan awaknya kembali ke atmosfer bumi. Serangkaian penerbangan yang dilakukan Uni Soviet kemudian disusul Amerika Serikat dengan astronautnya yang pertama bernama Alan Bartlett Shepard Jr, yang berada di ruang angkasa selama 15 menit (1961). Kemudian Uni Soviet menunjukan lagi kelebihannya dengan meluncurkan Gherman Stepanovich Titov yang mengitari bumi selama 25 jam dengan pesawat Vostok II. Amerika Serikat menyusul lagi dengan meluncurkan John H.Glenn dengan pesawat Griendship VII yang berhasil mengitari bumi sebanyak 3 kali..
3) Program Menuju Bulan
Program menuju bulan bermula dengan pendekatan ke bulan yang dilanjutkan dengan survei pendaratan berawak ke permukaan bulan. Puncaknya terjadi pada tanggal 20 Juli 1969, ketika Neil Amstrong dan Edwin Aldrin berhasil keluar dari pesawat Apolo 11 menuju permukaan bulan. Penjelajahan ke bulan dengan awak terus dilanjutkan dengan eksperimen yang diperluas sebelum akhirnya program tersebut dibatasi pada tahun 1972.
4) Penelitian dan Penjelajahan Planet
Dalam program ini, Amerika Serikat dan Uni Soviet mulai mengadakan penyelidikan (penelitian) planet di luar bumi. Melalui penyelidikan angkasa Mariner 2 (1962) dan Pioner Venus I (1978) milik Amerika Serikat, serta Vanera 3 (1966) dan Venera 4 (1967) milik Uni Soviet, diadakan eksplorasi terhadap planet Venus. Berdasarkan hasil temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa planet Venus lebih panas dengan suhu permukaan 900 derajat Fahrenheit sehingga kurang sesuai untuk dihuni makhluk hidup.
Selain planet Venus, para peneliti juga melakukan penelitian terhadap planet Mars, yang dilakukan melalui serangkaian penyelidikan Mariner dan Viking I selama akhir tahun 1960-an. Berbagai ekseperimen dilakukan untuk menyelidiki keberadaan sisa-sisa bahan organik di permukaan Mars. Pada tahun 1980-an, penyelidikan Voyagers 1 dan 2 ditujukan pada riset atmosfer dan satelit-satelit Yupiter dan Saturnus.
Program penjelajahan antariksa mengalami kemunduran pada tahun 1986, ketika misi pesawat ulang-alik Challenger meledak 73 detik setelah tinggal landas dan tujuh awaknya tewas seketika.
Di samping untuk kepentingan ilmiah, pengembangan satelit atau stasiun ruang angkasa memiliki keuntungan strategis apabila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk kepentingan militer. Oleh karena itu, kedua negara adidaya saling berlomba untuk mengembangkan satelit maupun stasiun ruang angkasa. Misalnya, Uni Soviet mengembangkan Salyut dan Amerika Serikat dengan program Skylab-nya. Perkembangan ini merupakan perpaduan antara pertumbuhan teknologi yang begitu cepat dan situasi politik Perang Dingin yang memaksa kedua negara adidaya mengadakan penelitian pengembangan dan persaingan di bidang ini.
Pengembangan industri teknologi perang dan militer merupakan dasar bagi teknologi baru yang dapat diterapkan pada industri antariksa. Misalnya, pengembangan pesawat jet dan roket telah memberikan sumbangan berarti bagi perkembangan industri antariksa dan berhasil membawa manusia untuk mengeksplorasi luar angkasa. Persaingan eksplorasi ruang angkasa tersebut dapat terlihat dari penerbangan antariksa berawak pertama, ketika seorang kosmonaut Uni Soviet, Yuri Gagarin mengorbit bumi dalam sebuah pesawat ruang angkasa. Kemudian Amerika Serikat menyaingi prestasi tersebut dengan mencatatkan sejarah, Neil Amstrong menjadi manusia pertama yang berhasil menginjakkan kaki di bulan.
Dengan adanya perlomban kecanggihan teknologi ruang angkasa pada masa Perang Dingin, selain menimbulkan kekhawatiran besar akan terjadinya konflik yang meluas di dunia, juga menimbulkan rasa takjub karena telah melahirkan sebuah era baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui inovasi industri antariksa yang akan menambah pengetahuan umat manusia terhadap jagat raya.


Perang Dingin (1947-1991) (Latar belakang, faktor penyebab,bidang yang mendapat pengaruh prang dingin)

Perang Dingin atau yang sering disebut “perang urat syaraf” adalah perang dalam bentuk ketegangan sebagai perwujudan dari konflik-konflik kepentingan, supremasi, perbedaan ideologi, dan lain sebagainya antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet, yang terjadi antara tahun 1947-1991. Istilah Perang Dingin dikenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. adapun penjelasan perang dingin 1947-1991 tentang Latar belakang, faktor penyebab,bidang yang mendapat pengaruh prang dingin,
Perang Dingin (1947-1991) (Latar belakang, faktor penyebab,bidang yang mendapat pengaruh prang dingin)


Perang Dingin (1947-1991)

Perang Dingin atau yang sering disebut “perang urat syaraf” adalah perang dalam bentuk ketegangan sebagai perwujudan dari konflik-konflik kepentingan, supremasi, perbedaan ideologi, dan lain sebagainya antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet, yang terjadi antara tahun 1947-1991. Istilah Perang Dingin dikenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

1. Latar Belakang Terjadinya Perang Dingin
Berikut yang melatarbelakangi terjadinya Perang Dingin.
a. Munculnya Amerika Serikat sebagai negara pemenang di pihak Sekutu (Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat). Amerika Serikat berperan besar dalam membantu negara-negara Eropa Barat untuk memperbaiki kehidupan perekonomiannya.
b. Munculnya Rusia (Uni Soviet) sebagai negara besar dan berperan membebaskan Eropa bagian Timur dari tangan Jerman dan membangun perekonomian negara-negara di Eropa Timur. Uni Soviet meluaskan pengaruhnya dengan mensponsori terjadinya perebutan kekuasaan di berbagai negara Eropa Timur seperti Bulgaria, Albania, Hungaria, Rumania, Polandia, dan Cekoslowakia sehingga negara-negara tersebut masuk dalam pemerintah komunis Uni Soviet.
c. Munculnya negara-negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia II di luar wilayah Eropa Dampaknya muncul dua kelompok negara di dunia yaitu negara-negara maju dengan negara-negara berkembang, yang memberikan pengaruh bagi perkembangan politik dan ekonomi dunia.

2. Faktor-faktor Penyebab Perang Dingin secara Umum
a. Faktor-faktor penyebab Perang Dingin secara Umum

1) Perbedaan dan Pertentangan Ideologi
Ideologi liberal-kapitalis yang dianut Amerika Serikat tidak dapat sejalan dengan ideologi sosialis-komunis yang dianut Uni Soviet. Bahkan, kelahiran paham sosialis-komunis memang dipicu dengan berkembangnya paham liberal-kapitalis yang pada waktu itu bertindak sewenang-wenang.
Selama berlangsungnya Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet dapat bergabung untuk menghadapi musuh bersama yaitu Jerman. Namun, setelah Perang Dunia II berakhir, pertentangan ideologi pun terjadi. Akibatnya dua kekuatan besar terbentuk dan bersaing untuk memperebutkan pengaruh. Salah satu cara yang digunakan adalah saling memengaruhi negara-negara lain untuk bergabung ke dalam kelompoknya.
Pada keadaan ini, dunia seolah-olah terbagi menjadi dua blok kekuasaan, yaitu Blok Barat yang berpaham liberal-kapitalis dengan Amerika Serikat sebagai pemimpinnya dan Blok Timur yang berpaham liberal-kapitalis dengan Amerika Serikat sebagai pemimpinnya dan Blok Timur yang berpaham sosialis-komunis dengan Uni Soviet sebagai pemimpinnya.

2) Perebutan Dominasi Kepemimpinan
Amerika Serikat dan Uni Soviet saling berusaha menjadi pemimpin dunia. Mereka berkeinginan dapat berkuasa dan memimpin dunia seperti masa kejayaan Inggris dan Prancis pada masa imperialisme kuno. Amerika Serikat dan Uni Soviet berusaha menjadi pemimpin dunia dengan cara baru misalnya dengan kekuatan ekonominya.
Amerika Serikat dengan kekuatan ekonominya berusaha memengaruhi negara-negara lain khususnya negara yang baru merdeka dengan paket bantuan ekonomi. Amerika Serikat beranggapan bahwa negara yang rakyatnya hidup makmur dapat menjadi tempat pemasaran hasil industrinya, dan juga akan menjauhkan dari pengaruh sosialis-komunis. Kemiskinan, akan menjadi ladang subur bagi perkembangan Ideologi sosialis-komunis.
Uni Soviet dengan kekuatan ekonominya juga berusaha membentangi negara-negara yang telah mendapat pengaruhnya. Paket bantuan ekonomi Uni Soviet juga diberikan untuk memperbaiki keadaan ekonomi negara-negara tersebut. Selain itu, Uni Soviet juga berusaha mendekati rakyat suatu negara yang sedang melakukan perjuangan nasionalnya dengan mengirimkan para tenaga ahli dan peralatan militer.

b. Faktor Penyebab Terjadinya Perang Dingin secara Khusus
Setelah Perang Dunia II berakhir, terjadi Perang Dingin. Pada waktu berlangsung Perang Dunia II, negara-negara yang bertikai bersatu melawan Jerman, Italia, dan Jepang. Pada waktu berlangsung Perang Dunia II, Franklin Delano Roosevelt (pemimpin Amerika Serikat), Joseph Stalin (pemimpin Uni Soviet), dan Winston Churchill (pemimpin Inggris) mengadakan pembicaraan di Teheran, Iran pada bulan Desember 1943. Tiga orang pemimpin tersebut dikenal dengan sebutan The Big Three.
Pembicaraan ketiga pemimpin tersebut dikenal sebagai Konferensi Teheran. Dalam Konferensi Teheran selain menyetujui akan bertempur terus melawan Jepang, juga berusaha menyusun strategi untuk mengalahkan Jerman. Akhirnya diputuskan bahwa untuk mengalahkan Jerman, Amerika Serikat dan Inggris akan menyerang Jerman melalui wilayah Balkan. Hal tersebut dilakukan untuk melindungi kepentingan Inggris di Laut Tengah bagian Timur apabila dilakukan serangan langsung ke Jerman. Sementara itu, pasukan Uni Soviet bertugas membebaskan Eropa Timur dari Jerman. Uni Soviet berhasil mematahkan perlawanan Jerman di Eropa Timur. Bahkan Uni Soviet berhasil menguasai Polandia, Bulgaria, Rumania, Hungaria, Yugoslavia, dan Cekoslowakia. Atas keberhasilan Uni Soviet tersebut, Roosevelt mulai mengkhawatirkan terhadap langkah-langkah Uni Soviet tersebut.
Di Semenanjung Krim, Yalta pada tanggal 4-11 Februari 1945 diselenggarakan konferensi yang dihadiri oleh para pemimpin tiga besar negara Sekutu. Pertemuan tersebut dikenal dengan Konferensi Yalta. Berikut hasil konferensi Yalta.
1) Rencana penyerahan tanpa syarat Jerman. Pendudukan Jerman akan dikuasai Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet.
2) Rencana konferensi pembentukan PBB di San Fransisco pada tanggal 25 April 1945.
3) Rencana Uni Soviet memaklumkan perang terhadap Jepang setelah kekalahan Jerman dengan kompensasi pemberian wilayah Sakhalin Selatan, Kepulauan Kuril serta pengembalian Port Arthur dan Dairen kepada status semula pada tahun 1904, sedangkan jalan kereta api Manchuria akan dikuasai bersama oleh Cina dan Uni Soviet.
Untuk masalah Polandia dan negara-negara di Eropa Timur, para pemimpin tiga negara besar masih berusaha mencari kompromi dalam Konferensi Yalta. Para pemimpin tersebut, terutama Inggris dan amerika Serikat, berharap oemerintah negara-negara di Eropa Timjur harus dipilih secara bebas, kecuali yang sudah mendukung dan didukung Uni Soviet. Kompromi mengenai negara-negara di Eropa Timur itu ternyata gagal. Bahkan sebekum Konferensi Yalta berlangsung, wilayah Polandia dan Bulgaria telah dikuasai Uni Soviet. Dengan demikian, seluruh kawasan Eropa Timur sudah berada dalam kendali Uni Soviet.
Sementara itu, di Amerika Serikat terjadi pergantian pemimpin . presiden Franklin Delano Roosevelt meninggal dan diganti oleh Harry S. Truman yang berkarakter lebih keras. Pada waktu diadakan Konferensi Postdam pada tanggal 2 Agustus 1945, masalah Eropa Timur diungkit kembali. Konferensi Postdam dianggap sebagai asal mula terjadinya Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Presiden Harry S. Truman menhendaki agar diselenggarakan pemilu bebas di seluruh negara di wilayah Eropa Timur. Namun, keinginan Truman tersebut ditolak oleh Stalin dengan menyatakan  bahwa pemerintahan yang dibentuk melalui pemilu di Eropa Timjur akan membentuk pemerintahan yang anti-Uni Soviet. Pemerintah Amerika Serikat sebenarnya telah berusaha menekan Uni Soviet untuk memuluskan niatnya dengan cara menghentikan bantuan ekonominya sebelum Konferensi Postdam dilakasanakan tetapi ternyata gagal.
Kebuntuan masalah Eropa Timjur setelah Konferensi Postdam menyebabkan Amerika Serikat mulai bersikap keras. Presiden Truman pada bulan Oktober 1945 menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak akan mengakui suatu pemerintahan yang dibentuk dengan paksaan tanpa mendengar keinginan rakyatnya. Dalam ketegangan tersebut, Inggris mendukung Amerika Serikat. Hal ini tidaklah mengherankan karena Amerika Serikat dahulunya adalah koloni Inggris. Selain itu, persamaan ideologi di antara keduanya menjadikan kedua negara tersebut saling membantu.
Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill pada kunjungan ke Amerika Serikat menyatakan bahwa tirai besi telah digelar di sepanjang daratan Eropa dengan membagi Jerman dan Eropa dalam dua kubu yang berlawanan.

3. Bidang-Bdang yang Mendapat Pengaruh Perang Dingin
Perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni soviet menyangkut bidang yang luas, yaitu politik, ekonomi, militer, maupun ruang angkasa (outer space).
a. Politik
Amerika Serikat berusaha menjadikan negara yang sedang berkembang sebagai negara demokrasi, agar hak-hak asasi manusia dapat dijamin. Adapun di negara yang kalah perang seperti Jepnag dan Jerman, kecuali paham demokrasi, kapitalisme juga dikembangkan, agar negara-negara tersebut dapat sehaluan dengan Amerika Serikat dan menjadi negara pengaruhnya.
Di pihak lain, Uni Soviet dengan paham sosialis-komunis, mendengungkan pembangunan dengan rencana lima tahun demi kesejahteraan rakyatnya. Caranya tidak dilakukan dengan liberal, tetapi dengan cara diktator, tertutup. Dengan sistem ini Uni Soviet dikenal sebagai negara tirai besi.
b. Militer
Perebutan pengaruh militer antara Amerika Serikat dan Uni Soviet terlihat dalam bentuk pakta pertahanan. Berlangsungnya perang Dingin menyebabkan Amerika Serikat dan Uni Soviet saling curiga satu sama lain. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perang terbuka, kedua negara adidaya beserta para sekutunya saling memperkuat pertahanan dan militernya.
Amerika Serikat beserta para sekutunya berusaha membentuk pakta pertahanan untuk menghadapi serangan Uni Soviet. Di kawasan Atlantik Utara, Amerika Serikat bersama sekutunya Inggris, Prancis, Belanda, Belgia, Luksemburg, Norwegia, dan Kanada, setuju untuk membentuk persekutuan militer bersama. Persekutuan militer itu disebut North Atlantic Treaty Organization (NATO). NATO dibentuk pada tanggal 4 April 1949 dengan tujuan untuk membendung komunis mulai dari Eropa Utara sampai Turki dan Yunani.
Amerika Serikat juga berusaha menggelar kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan. Untuk keperluan itu, Amerika Serikat bersama Turki, Irak, Iran, dan Pakistan membentuk kerjasama militer. Nama kerja sama militer tersebut adalah Middle East Treaty Organization yang disingkat METO atau dikenal dengan CENTO (Central Treaty Organization) yang berdiri pada tahun 1959, yang semula bernama Pakta Bagdad.
Untuk menahan laju perluasan komunis di Asia Tenggara. Amerika Seikat pada tahun 1954 membentuk kerja sama militer yang disebut SEATO. Kerja sama militer tersebut terdiri atas negara Amerika Serikat, Inggris, Prancis, australia, Thailand, Filipina , dan Selandia Baru. Amerika Serikat berusaha menghambat laju komunis di Pasifik Selatan dengan membentuk kerja sama militer pula. Kerja sama pertahanan di Pasifik Selatan disebut ANZUS (Australia, New Zealend, and United States) yang didirikan atas dasar Tripatite Security Treaty pada tanggal 1 September 1951, sedangkan Uni Soviet berusaha mengimbangi kekuatan militer Blok Barat dengan membentuk kerja sama militer pula. Pada tanggal 14 Mei 1955 Uni Soviet bersama Mongolia, Polandia, Cekoslowakia, Bulgaria, Rumania, dan Jerman Timur membentuk Pact of Mutual Assistance and Unified Command atau dikenal dengan sebutan Pakta Warsawa. Pakta Warsawa merupakan kerja sama pertahanan dan keamanan negara-negara komunis.
c. Ekonomi
Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet saling berusaha untuk memberikan bantuan atau pinjaman kepada negara-negara yang menjadi sasarannya.
Sebagai negara kreditur terbesar, Amerika Serikat dapat memberikan pinjaman atau bantuan ekonomi kepada negara-negara yang sedang berkembang (developing countries) khususnya yang sedang membangun. Negara-negara Eropa Barat yang hancur ekonominya karena Perang Dunia II dibantu melalui Marshall Plan. Ada negara yang memperoleh grants in aid, yaitu bantuan ekonomi dengan kewajiban membalikannya berupa dollar atu dengan cara membeli barang-barang dari Amerika Serikat. Pencetus program bantuan Marshall Plan untuk negara-negara di Eropa adalah George C. Marshall. Marshall adalah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Dengan persetujuan Harry S.Truman, Marshall menawarkan bantuan kepada negara Eropa. Bantuan Marshall Plan diterima dengan baik oleh negara Eropa dalam suatu konferensi di Paris pada buln Juli 1947.
Untuk negara-negara Asia, Presiden Truman mengeluarkan The Points Four Program for Economic Development in Asia. Program ini berupa bantuan teknik dalam wujud perlengkapan-perlengkapan ekonomi atau bantuan kredit yang berasal dari sektor swasta Amerika Serikat yang disalurkan oleh pemerintah kepada negara-negara yang sedang berkembang. Selain itu, Presiden Harry S.Truman memberikan bantuan teknis dan ekonomi khusus kepada Turki dan Yunani yang dikenal dengan Truman Doctrine.
Untuk mengimbangi Truman Doctrine dan Marshall Plan, pemerintah Uni Soviet membuat Molotov Plan. Tujuan Molotov Plan adalah untuk menata kembali perekonomian negara-negara Eropa Timur. Selain Molotov Plan, Uni Soviet juga membentuk badan kerja sama ekonomi yang bernama Comintern Economic (Cornecorn). Cornecorn didirikan di Moskow pada tanggal 25 Januari 1945 dengan negara anggotanya Uni Soviet, Bulgaria, Cekoslowakia, Polandia, Jerman Timur, Albania, Mongolia, dan Vietnam.

Gerakan Nonblok (Non aligned Movement)

Gerakan nonblok atau non aligned movement (GNB) merupakan sebuah organisasi dari negara yang tidak memihak Blok Barat dan Blok Timur. Gerakan Nonblok berdiri pada tanggal 1 September 1961 di Beogard, Yugoslavia. Pendiri GNB adalah Soekarno (presiden Indonesia), Joseph Broz Tito (presiden Yugoslavia), Gamal Abdul Nasser (presiden Mesir), Pandit Jawaharlal Nehru (perdana menteri India), dan Kwame Nkrumah (presiden Ghana).
Gerakan Nonblok (Non aligned Movement)

a. Gerakan Nonblok (Nonaligned Movement)
GNB merupakan sebuah organisasi dari negara yang tidak memihak Blok Barat dan Blok Timur. Gerakan Nonblok berdiri pada tanggal 1 September 1961 di Beogard, Yugoslavia. Pendiri GNB adalah Soekarno (presiden Indonesia), Joseph Broz Tito (presiden Yugoslavia), Gamal Abdul Nasser (presiden Mesir), Pandit Jawaharlal Nehru (perdana menteri India), dan Kwame Nkrumah (presiden Ghana).

1) Latar Belakang Berdirinya GNB
a) Munculnya dua blok, yaitu Blok Barat di bawah Amerika Serikat dan Blok Timur di bawah Uni Soviet yang saling memperebutkan pengaruh di dunia.
b) Adanya kecemasan negara-negara yang baru merdeka dan negara-negara berkembang, sehingga berupaya meredakan ketegangan dunia.
c) Ditandatanganinya “Dokumen Brioni” pada tahun 1956 oleh Presiden Joseph Broz Tito (Yugoslavia), Perdana Menteri Jawaharlal Nehru (India), Presiden Gamal Abdul Nasser (Mesir) yang bertujuan mempersatukan negara-negara nonblok.
d) Terjadinya Krisis Kuba 1961 karena Uni Soviet membangun pangkalan militer di Kuba secara besar-besaran.

2) Tujuan GNB
Berikut tujuan dari GNB.
a) Memelihara perdamaian dan keamanan internasional.
b) Mengusahakan tercapainya pelucutan senjata secara umum dan menyeluruh di bawah pengawasan internasional yang efektif.
c) Mengusahakan agar PBB berfungsi secara efektif.
d) Mengusahakan terwujudnya tata ekonomi dunia baru.
e) Mengusahakan kerja sama di segala bidang dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi dan sosial serta tercapainya perdamaiandunia.

3) Keanggotan GNB
Pada waktu berdiri, GNB hanya beranggota 25 negara. Setiap diselenggarakan gerakan KTT, GNB anggotanya selalu bertambah. Berikut syarat-syarat menjadi anggota GNB.
a) Menganut politik bebas dan hidup berdampingan secara damai.
b) Mendukung gerakan-gerakan kemerdekaan nasional.
c) Tidak menjadi anggota salah satu pakta militer Amerika Serikat atau Uni Soviet.
4) Kegiatan GNB
a) Bidang Politik dan Perdamaian Dunia
(1) Meredakan ketegangan dunia.
(2) Mengusahakan terciptanya perdamaian dunia.
(3) Mengusahakan terwujudnya hubungan antarbangsa secara demokratis.
(4) Mengusahakan pelucutan senjata dan pengurangan senjata nuklir.
(5) Menghapus pangkalan militer asing dan pakta-pakta militer.
(6) Melenyapkan kolonialisme.
(7) Menyelesaikan sengketa antarnegara dan perang-perang lokal, seperti Perang Irak-Iran, masalah di wilayah Timur Tengah (Middle East).
(8) Menghapus persekutuan militer.
(9) Menentang rasialisme dan apartheid.
b) Kegiatan yang Dilakukan GNB dalam Bidang Ekonomi

(1) Ikut berusaha memperjuangkan kemerdekaan atau kebebasan dalam bidang ekonomi dan kerja sama atas dasar persamaan derajat.
(2) Ikut berusaha mewujudkan suatu tatanan ekonomi dunia baru, sehingga terdapat hubungan kerja sama saling menguntungkan antara negara maju dan negara sedang berkembang.
Berikut pelaksanaan tata ekonomi dunia baru yang diperjuangkan GNB dalam forum PBB.
(a) Dialog Utara-Selatan adalah pertemuan yang membahas kerja sama yang saling menguntungkan antara kelompok negara maju yang merupakan negara industri (utara) dan negara-negara berkembang (selatan). Dengan adanya dialog Utara-Selatan ini diharapkan bisa menghilangkan kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang sehingga akan terwujud tata ekonomi dunia baru yang adil dan merata.
(b) Kerja sama Selatan-Selatan merupakan bentuk kerja sama antarnegara berkembangkan dalam bidang ekonomi dan teknologi.
(c) Kelompok 77 merupakan kelompok negara berkembang yang berjuang untuk memperoleh keadilan ekonomi atas negara-negara maju. Kelompok 77 dibentuk pada tahun 1964 di Jenewa, Swiss.

2) Penyelenggaraan KTT
Untuk memperjelas kedudukan GNB, maka organisasi ini mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). Berikut Penyelenggaraan KTT GNB.
a) KTT GNB I diselenggarakan pada tanggal 1-6 September 1961 di Beogard, Yugoslavia. KTT ini menghasilkan Deklarasi Beogard yang isinya sebagai berikut.
(1) Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur dihentikan.
(2) Menghentikan percobaan senjata nuklir.
(3) Memberantas kolonialisme dan imperialisme.
b) KTT GNB II pada tanggal 5-10 September 1964 di Kairo, Mesir.
c) KTT GNB III pada tanggal 8-10 September 1970 di Lusaka, Zambia.
d) KTT GNB IV pada tanggal 5-9 September 1973 di Alzir, Aljazair.
e) KTT GNB V pada tanggal 16-19 Agustus 1976 di Kolombo, Sri Langka.
f) KTT GNB VI pada tanggal 3-9 September 1979 di Havana, Kuba.
g) KTT GNB VII pada tanggal 7-12 Maret 1983 di New Delhi, India.
h) KTT GNB VIII pada tanggal 1-6 September 1986 di Harare, Zimbabwe.
i) KTT GNB IX pada tanggal 4-7 September 1989 di Beogard, Yugoslavia.
j) KTT GNB X pada tanggal 1-7 September 1989 di Jakarta, Indonesia.
k) KTT GNB XI pada tanggal 18-20 Oktober 1995 di Cartagena, Colombia.
l) KTT GNB XII pada tanggal 2-3 September 1998 di Durban, Afrika.
m) KTT GNB XIII pada tanggal 20-25 Februari 2003 di Putrajaya, Malaysia.
n) KTT GNB XIV pada tanggal 11-16 September 2006 di Havana, Kuba.
o) KTT GNB XV pada tanggal 11-16 Juli 2009 di Sharmel-Sheikh, Mesir.
p) KTT GNB XVI pada bulan Agustus 2012 di Taheran, Iran.

Hubungan Dekolonisasi di Asia Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara

Hubungan Dekolonisasi di Asia dan Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara, Pasca-Perang Dunia II membawa pengaruh yang sangat berarti bagi perkembangan pergerakan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika. Semangat nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan di negara-negara Asia dan Afrika mencapai puncaknya dengan memproklamasikan dirinya sebagai negara merdeka, sehingga terjadilah dekolonisasi di Asia dan Afrika.

Hubungan Dekolonisasi di Asia Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara

Hubungan Dekolonisasi di Asia dan Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara

1. Dekolonisasi di Asia Afrika
Pasca-Perang Dunia II membawa pengaruh yang sangat berarti bagi perkembangan pergerakan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika. Semangat nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan di negara-negara Asia dan Afrika mencapai puncaknya dengan memproklamasikan dirinya sebagai negara merdeka, sehingga terjadilah dekolonisasi di Asia dan Afrika.

a. Singapura
Singapura menjadi Cown Colony dari Kerajaan Inggris pada tahun 1946. Kedudukan Singapura sama dengan negara-negara di Malaka. Selanjutnya Singapura mendapat pemerintah sendiri sebagai negara merdeka pada tahun 1959. Pada bulan November 1963 Sabah, Serawak, dan Singapura bergabung dengan Malaysia. Namun, kemudian Singapura menarik diri dari Malaysia sejak tanggal 9 Agustus 1965 dan menjadi Republik Singapura sampai sekarang.

b. Indonesia
Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang pada waktu terjadi Perang Pasifik. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada bukan Agustus 1945 di Indonesia terjadi vacum of power. Akhirnya Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan presidennya Ir. Soekarno dan Moh. Hatta sebagai wakil presiden.

c. Kamboja
Pada waktu Perang Dunia II untuk sementara Kamboja diduduki oleh Jepang. Setelah Perang Dunia II berakhir, Kamboja dikuasai kembali oleh Prancis. Namun pada tanggal 9 November 1953, Kamboja berhasil memerdekakan diri dan sejak itu Norodom Sihanouk berkuasa penuh di Kamboja. Untuk lebih memusatkan perhatiannya pada bidang politik pada tahun 1955 Norodom Sihanouk melepas jabatan raja dan memegang jabatan perdana menteri.

d. Kenya
Kenya merupakan daerah pengaruh Jerman dan Inggris, namun kemudian menjadi jajahan Inggris. Pada tahun 1963 lahir gerakan nasional pertama yaitu dengan dibentuknya organisasi Kenya Afrian Union (KAU) dengan ketuanya Jomo Kenyata. Dalam pemilihan umum tahun 1963 KAU memperoleh kemenangan dan Kenya berpemerintahan sendiri dengan Jomo Kenyata sebagai Perdana Menteri. Kemudian pada tahun 1964 Kenya menjadi republik dengan presiden Jomo Kenyata.

e. Tunisia
Tunisia merupakan negara jajahan Prancis. Pada waktu Prancis di bawah pimpinan Perdana Menteri Pierre Mendez France, Tunisia diberi otonomi. Namun, kaum nasionalis tidak puas dan menuntut kemerdekaan. Akhirnya Prancis memberi kemerdekaan kepada Tunisia tahun 1956 dengan presiden pertamanya Habib Destour.

2. Hubungan Dekolonisasi di Asia Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara

Negara-negara yang baru merdeka tidak selamanya merasa bergantung dengan negara bekas penjajah. Negara-negara yang baru merdeka harus berusaha menunjukkan kebenaran dan mengambil peranan dalam kehidupan dunia. Berbagai usaha untuk meredakan ketegangan di antara dua blok (Blok Barat dan Blok Timur) dan meghapuskan kolonialisme menjadi agenda yang penting bagi negara-negara yang baru merdeka.

Setelah merdeka, bangsa Indonesia berusaha tampil dalam percaturan dunia untuk ikut menciptakan perdamaian. Sebagai bentuk keikutsertaan dalam menciptakan perdamaian dunia, bangsa Indonesia menyelenggarakan kegiatan-kegiatan berikut.
a. Konferensi Asia Afrika (KAA)
1) Latar Belakang KAA
Politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif. Bebas artinya bangsa Indonesia tidak memihak pada salah satu blok yang ada di dunia dan aktif artinya bangsa Indonesia secara aktif ikut mengusahakan terwujudnya perdamaian dunia. Bangsa Indonesia memilih sifat politik luar negerinya bebas aktif karena setelah Perang Dunia II berakhir, muncul dua kekuatan adidaya yaitu Amerika Serikat yang memelopori berdirinya Blok Barat atau Blok kapitalis dan Uni Soviet yang memelopori munculnya Blok Timur atau sosialis.

Untuk meredakan ketegangan dan mewujudkan perdamaian dunia, bangsa Indonesia memprakarsai dan menyelenggarakan KAA. Usaha bangsa Indonesia ini mendapat dukungan dari negara-negara di Asia dan Afrika. Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada umumnya pernah menderita karena penindasan imperialis Barat, mereka merasa senasib. Rasa setia kawan ini dicetuskan dalam KAA. Prakarsa untuk mengadakan KAA dikemukakan pertama kali oleh Perdana Menteri RI Ali Sastroamijoyo yang kemudian mendapat dukungan dari negara India, Pakistan, Sri Langka, dan Burma (Myanmar) dalam Konferensi Kolombo.

Berikut latar belakang dan dasar pertimbangan diadakan KAA.
a) Kenangan kejayaan masa lampau dari beberapa negara di kawasan Asia Afrika.
b) Perasaan senasib sepenanggungan karena sama-sama merasakan masa penjajahan dan penindasan bangsa Barat, kecuali Thailand.
c) Meningkatnya kesadaran berbangsa yang dimotori oleh golongan elite nasional atau terpelajar dan intelektual.
d) Adanya Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur.
e) Memiliki pokok-pokok yang kuat dalam hal bangsa, agama, dan budaya.
f) Secara geografis letaknya berdekatan dan saling melengkapi satu sama lain.
2) Konferensi Sebelum Dilaksanakan KAA
Sebelum KAA dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan konferensi pendahuluan sebagai persiapan. Berikut konferensi pendahuluan sebelum dilaksanakan KAA.

a) Konferensi Kolombo (Konferensi Pancanegara I)
Konferensi Kolombo diselenggarakan di Kolombo, Sri Langka pada tanggal 28 April - 2 Mei 1954. Konferensi Kolombo dihadiri oleh lima perdana menteri sebagai berikut.
(1) Perdana Menteri Pakistan : Muhammad Ali Jinah
(2) Perdana Menteri Sri Langka : Sir John Kotelawala
(3) Perdana Menteri Burma (Myanmar) : U Nu
(4) Perdana Menteri Indonesia : Ali Sastroamijoyo
(5) Perdana Menteri India : Jawaharlal Nehru
Konferensi Kolombo membahas masalah Vietnam sebagai persiapan untuk menghadapi konferensi di Jenewa. Secara aklamasi, Konferensi Kolombo memutuskan akan mengadakan KAA dan bangsa Indonesia ditunjuk sebagai penyelenggara. Kelima negara yang wakilnya hadir dalam Konferensi Kolombo kemudian dikenal dengan nama Pancanegara. Konferensi Kolombo juga dikenal dengan nama Konferensi Pancanegara I.
b) Konferensi Bogor (Konferensi Pancanegara II)
Konferensi pendahuluan yang kedua diselenggarakan pada tanggal 22-29 Desember 1954 di Bogor. Konferensi Bogor dihadiri oleh perdana menteri negara-negara peserta Konferensi Kolombo. Berikut ini hasil keputusan Konferensi Bogor.
(1) KAA diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955.
(2) Penetapan tujuan KAA dan menetapkan negara-negara yang akan diundang sebagai peserta KAA.
(3) Hal-hal yang akan dibicarakan dalam KAA.
(4) Pemberian dukungan terhadap tuntutan Indonesia mengenai Irian Barat.
3) Pelaksanaan KAA

KAA sesuai dengan rencana diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955. KAA dihadiri oleh wakil-wakil dari 29 negara yang terdiri atas negara pengundang dan negara yang diundang. Negara pengundang meliputi Indonesia, India, Pakistan, Sri Langka, dan Burma (Myanmar), sedangkan negara yang diundang ada 24 negara terdiri dari 6 negara Afrika (Mesir, Sudan, Etiopia, Liberia, Libia, dan Ghana/Gold Coast) dan 18 negara Asia (Filipina, Thailand, Kamboja, Laos, RRC, Jepang, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Nepal, Afghanistan, Iran, Irak, Saudi Arabia, Syria (Suriah), Yordania, Lebanon, Turki, dan Yaman). Negara yang diundang dalam KAA namun tidak hadir adalah Rhodesia/Federasi Afrika Tengah. Ketidakhadiran tersebut dikarenakan di Rhodesia masih dilanda pertikaian dalam negara/dikuasai oleh Inggris.
Berikut tujuan diadakan KAA.
a) Memajukan kerja sama bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
b) Memberantas diskriminasi ras dan kolonialisme.
c) Memperbesar peranan bangsa Asia dan Afrika di dunia dan ikut serta mengusahakan perdamaian dunia dan kerja sama internasional.
d) Bekerja sama dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya.
e) Membicarakan masalah-masalah yang menyangkut kepentingan negara-negara Asia dan Afrika dan negara-negara di dunia, konferensi mengambil beberapa keputusan penting sebagai berikut.
a) Memajukan kerja sama bangsa-bangsa Asia dan Afrika di bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
b) Menuntut kemerdekaan bagi Aljazair, Tunisia, dan Maroko.
c) Mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat dan tuntutan Yaman atas Aden.
d) Menentang diskriminasi ras dan kolonialisme dalam segala bentuk.
e) Aktif mengusahakan perdamaian dunia.
4) Arti Penting KAA

KAA berpengaruh sangat besar dalam rangka menciptakan perdamaian dunia dan mengakhiri penjajahan di seluruh dunia secara damai, khususnya di Asia dan Afrika. Semangat KAA untuk tidak memihak Blok Barat maupun Blok Timur telah mendorong lahirnya gerakan nonblok. Berikut arti penting KAA.
a) Merupakan pendorong kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk lepas dari kekuasaan imperialisme dan kolonialisme Barat.
b) Menjadi pendorong lahirnya GNB.
c) Merupakan pencetus semangat solidarisme dan kebangkitn negara-negara Asia dan Afrika dalam menggalang persatuan.
d) Memberikan harapan barru bagi bangsa-bangsa yang sudah maupun yang belum merdeka.
e) Mulai diikutinya politik luar negeri bebas dan aktif yang dijalankan oleh Indonesia, India, Myanmar, dan Sri Langka.
f) Kembali bangkit dan sadarnya bangsa-bangsa Asia dan Afrika akan potensi yang dimiliki.
g) Diakuinya nilai-nilai Dasasila Bandung oleh negara-negara maju karena terbukti memiliki kemampuan dalam meredakan ketengangan dunia.
h) Mulai dihapuskannya praktik-praktik politik diskriminasi ras oleh negara-negara maju.

Terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (Latar Belakang, Tujuan, Asas, Struktur, dan ke anggotaan PBB)

Kali ini admin akan membahas terbentuknya perserikatan bangsa-bangsa (PBB) dimulai dengan latar belakng terciptanya pbb, tujuan dan asas organisasi pbb serta di lanjutkan dengan struktur pbb, dan ke anggotaan pbb.
Terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (Latar Belakang, Tujuan, Asas, Struktur, dan ke anggotaan PBB)

Terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

a. Latar Belakang Berdirinya PBB
PBB atau United Nations Organization (UNO) merupakan kelanjutan dari LBB. Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt mengadakan pertemuan pada tanggal 14 Agustus 1941 di atas kapal Augusta di Teluk New Foundland. Pertemuan tersebut menghasilkan suatu piagam yang disebut Atlantic Charter. Berikut isi dari Atlantic Charter.
1) Tidak dibenarkan adanya perluasan wilayah.
2) Setiap bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri.
3) Setiap bangsa mempunyai hak untuk ikut serta dalam perdagangan dunia.
4) Perdamaian dunia harus diciptakan agar setiap bangsa hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan.

Sebagai kelanjutan dari kesepakatan Atlantic Charter, pada tanggal 1 Januari 1942 diadakan konferensi antarbangsa di Washington, Amerika Serikat. Konferensi dihadiri oleh 26 negara dan menyetujui Atlantic Charter sehingga lahirlah Declaration of the United Nations. Demikian pula konferensi antara negara besar kelompok Sekutu di Dumbarton Oaks (dekat Washington) Amerika Serikat menyetujui pembentukan organisasi bangsa-bangsa dengan nama United Nations Organization. Kemudian wakil dari lima puluh negara yang disponsori empat negara besar (Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet, dan Cina) pada tanggal 26 Juni 1945 mengadakan konferensi di San Fransisco, Amerika Serikat. Pertemuan ini membicarakan suatu organisasi pengganti LBB dan berhasil menyusun suatu piagam yang dikenal dengan nama Charter for Peace (Piagam Perdamaian). Isi Charter fo Peace adalah tentang hak setiap bangsa untuk menentukan nasib sendiri (right of self determinations). Piagam inilah yang melandasi kegiatan PBB.
Pigam yang ditandatangani oleh lima puluh negara peserta Konferensi San Fransisco belum dapat melaksanakan tugasnya, karena belum mendapat pengesahan dan persetujuan dari parlemen masing-masing negara peserta. Baru pada tanggal 24 Oktober 1945, badan tersebut disahkan oleh sebagian besar dari negara peserta, sehingga tanggal 24 Oktober 1945 secara resmi diakui sebagai hari berdirinya PBB. Istilah United Nations pertama kali dipergunakan oleh Franklin Delano Roosevelt pada tanggal 1 Januari 1942. Markas besar PBB didirikan di atas tanah yang disumbangkan oleh John Davison Rockefeller Junior yang terletak di tepi East River, Lake Succes, New York.

b. Tujuan dan Asas Organisasi PBB
Berikut tujuan organisasi PBB.
1) Memelihara perdamaian dan keamanan internasional.
2) Mengembangkan hubungan persaudaraan antarbangsa.
3) Mengadakan kerja sama internasional dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan.
4) Menjadi pusat  penyelarasan segala tindakan bersama terhadap negara yang membahayakan perdamaian dunia.

Selain tujuan tersebut, PBB juga mempunyai asas sebagai berikut.
1) Persamaan kedaulatan semua bangsa.
2) Mematuhi kewajiban-kewajiban sesuai dengan ketentuan PBB.
3) Menyelesaikan setiap pertikaian dengan jalan damai.
4) Mencegah tindakan yang bersifat ancaman, tindakan kekerasan, atau tindakan lain yang bertentangan dengan tujuan PBB.

c. Struktur Organisasi PBB
Berikut beberapa struktur organisasi PBB.
1) Majelis Umum (General Assembly)
Berikut tugas Majelis Umum PBB.
a) Memajukan kerja sama internasional dalam bidang politik dan memajukan perkembangan hukum internasional.
b) Memajukan kerja sama internasional dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan kesehatan.
c) Membantu pelaksanaan hak-hak asasi dan kemerdekaan manusia bagi semua bangsa di seluruh dunia.
d) Menetapkan anggaran belanja dan pendapatan PBB.
Pada masa persidangan Majelis Umum yang ke-26 yaitu bulan September 1971 Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik terpilih sebagai ketua sidang umum. Dengan terpilihnya Adam Malik menunjukkan penghormatan dan kepercayaan negara-negara lain kepada bangsa Indonesia. Sidang umum yang dipimpin Adam Malik ini membalas beberapa masalah seperti keanggotaan RRC, masalah Timur Tengah, Perang Pakistan-India, dan lain-lain.

2) Dewan Keamanan (Security Council)
Dewan keamanan PBB terdiri dari lima belas anggota, yaitu lima anggota tetap yang memiliki hak veto (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Uni Soviet, dan Cina) dan sepuluh anggota tidak tetap yang dipilih oleh Majelis Umum PBB dengan masa jabatan dua tahun. Hak veto adalah hak membatalkan keputusan Dewan Keamanan PBB.
Berikut tugas Dewan Keamanan PBB.
a. Memelihara perdamaian dunia dan keamanan internasional.
b. Menyelesaikan sengketa secara damai.
c. Mengambil tindakan terhadap negara yang mengancam perdamaian dunia.

3) Dewan Ekonomi dan Sosial (Economic and Social Council)
Dewan Ekonomi dan Sosial PBB terdiri dari 27 anggota yang dipilih oleh Majelis Umum PBB untuk masa jabatan tiga tahun. Berikut tugas Dewan Ekonomi dan Sosial PBB.
a. Mengadakan penyelidikan dan menyusun penyelesaian masalah ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan seluruh dunia.
b. Membuat rencana perjanjian tentang masalah tersebut dengan negara anggota untuk diajukan kepada Majelis Umum PBB.
c. Mengadakan pertemuan internasional tentang hal-hal yang termasuk tugas dan wewenangnya.

4) Dewan Perwalian (Trusteeship Council)
Dewan Perwalian merupakan lembaga PBB yang dibentuk dalam rangka untuk mendorong dan membantu mengusahakan kemajuan penduduk perwalian untuk mencapai kemerdekaanya.

5) Mahkamah Internasional (International Court of Justice)
Mahkamah Internaional adalah badan perlengkapan PBB yang berkedudukan di Den Haag (Belanda). Anggota Mahkamah Internasional terdiri dari ahli hukum dari berbagai negara anggota PBB dengan masa jabatan sembilan tahun.
Berikut tugas Mahkamah Internasional.
a. Memeriksa perselisihan atau sengketa antara negara-negara anggota PBB yang diserahkan kepada Mahkamah Internasional.
b. Memberi pendapat kepada Majelis Umum tentang penyelesaian sengketa antara negara-negara anggota PBB.
c. Menganjurkan Dewan Keamanan PBB untuk bertindak terhadap salah satu pihak yang menghiraukan keputusan Mahkamah Internasional.’memberi nasihat tentang persoalan hukum kepada Majelis Umum dan Dewan Keamanan.
6) Sekretariat (Secretary)
Sekretariat PBB merupakan salah satu badan utama dari PBB yang dikepalai oleh seorang sekretaris jenderal PBB, dibantu oleh seorang staf pembantu pemerintah sedunia. Berikut urutan sekretaris jenderal PBB.
a. Sekjen PBB I : Trygve Lie (Norwegia).
b. Sekjen PBB II : Dag Hamarskjold (Swedia).
c. Sekjen PBB III : U. Thant (Myanmar).
d. Sekjen PBB IV : Kurt Waldheim (Austria).
e. Sekjen PBB V : Javier Perez De Cuellar (Peru).
f. Sekjen PBB VI : Butros-Butros Ghali (Mesir).
g. Sekjen PBB VII : Kofi Annan (Ghana).
h. Sekjen PBB VIII : Ban Ki-Moon (Korea).

d. Keanggotaan PBB
Keanggotaan PBB terdiri dari dua macam, yaitu anggota asli dan anggota tambahan. Anggota asli adalah lima puluh negara yang ikut serta menandatangani United Nations Charter pada Konferensi San Fransisco tanggal 26 Juni 1945 dan Deklarasi Washington pada tahun 1942. Adapun anggota yambahan adalah negara anggota PBB yang masuk berdasarkan persyaratan yang di atur oleh anggota PBB yang masuk berdasarkan persyaratan yang diatur oleh anggota asli PBB. Sampai dengan bulan September 2006 anggota PBB mencapai 192 negara.

Konferensi-Konferensi yang Diselenggarakan Selama Perang Dunia II

inilah konferensi-konferensi yang di selenggarakan selama perang dunia 2 (II) berlangsung. adapun penjelasan lain tentang konferensi atlantik, casablanca, moskow, kairo, teheran, yalta.
Konferensi-Konferensi yang Diselenggarakan Selama Perang Dunia II


Konferensi-Konferensi yang Diselenggarakan Selama Perang Dunia II

Berikut konferensi-konferensi yang diselenggarakan selama Perang Dunia II, baik mengenai siasat perang maupun perdamaian di dunia.

1) Konferensi Atlantik pada tanggal 14 Agustus 1941 antara Franklin Delano Roosevelt dan Winston Churchill yang melahirkan Atlantic Charter.

2) Konferensi Casablanca pada bulan Januari 1943 antara Franklin Delano Roosevelt dan Winston Churchill yang merencanakan penyerbuan tentara Sekutu ke Eropa untuk mengalahkan tentara Blok Sentral (poros atau Blok Jerman).

3) Konferensi Moskow pada bulan Oktober 1943 antara Menteri Luar Negeri Vyacheslav Mikhailovich Molotov (Uni Soviet), Cordll Hull (Amerika Serikat), dan Anthony Eden (Inggris) yang menyatakan akan dibentuk organisasi internasional yang menjamin perdamaian.

4) Konferensi Kairo pada bulan November 1943 antara Franklin Delano Roosevelt, Winston Churchill, dan Chiang Kai Shek yang menyatakan bahwa mereka akan terus bertempur sampai Jepang menyerah tanpa syarat.

5) Konferensi Teheran pada bulan Desember 1943 antara Joseph Stalin, Franklin Delano Roosevelt, dan Winston Churchill yang menyatakan bahwa keputusan dalam Konferensi Kairo diterima baik oleh Stalin dan kerja sama antara Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Inggris akan berlangsung meskipun perang telah berakhir.

6) Konferensi Yalta pada bulan Februari 1945 antara Joseph Stalin, Franklin Delano Roosevelt, dan Winston Churchill.

perjanjian Perdamaian Pasca-Perang Dunia II (dan akhir perang dunia II dan akibat perang dunia II)

kali ini admin akan membahas tentang perjanjian perdamaian pasca perang dunia ke 2 (II) beserta dengan akhir perang dunia II dan akibat perang dunia II. Perang Dunia II berakhir dengan kemenangan Amerika Serikat dan sekutunya atas Jerman beserta aliansinya. Negara yang terlibat dalam perang baik yang kalah maupun yang menang kemudian menempuh upaya perdamaian. Upaya perdamaian itu dilakukan melalui berbagai perjanjian perdamaian. Berikut beberapa perjanjian perdamaian yang diadakan pasca-Perang Dunia II.
erjanjian Perdamaian Pasca-Perang Dunia II (dan akhir perang dunia II dan akibat perang dunia II)

Perjanjian Perdamaian Pasca-Perang Dunia II

1) Perjanjian antara Sekutu dan Jerman (Konferensi Postdam)
Perjanjian antara Sekutu dan Jerman berlangsung d Postdam dalam sebuah konferensi yang digelar pada tanggal 2 Agustus 1945. Perjanjian tersebut dihadiri Harry S. Truman (presiden Amerika Serikat), Joseph Stalin (pemimpin Uni Soviet), dan Clement Richard Attlee (perwakilan dari Inggris). Berikut beberapa keputusan yang dihasilkan dari Konferensi Postdam.

a) Jerman dibagi atas empat daerah pendudukan, Jerman Tmur (termasuk Berlin Timur) dikuasai oleh Uni Soviet, sedangkan Jerman Barat (termasuk Berlin Barat) dikuasai oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.
b) Danzig dan daerah Jerman bagian timur Sungai Oder dan Neisse diberikan kepada Polandia.
c) Dilakukan demiliterisasi untuk Jerman.
d) Penjahat perang harus dihukum.
e) Jerman harus membayar ganti rugi perang.

2) Perjanjian antara Sekutu dan Jepang
Berikut beberapa hasil keputusan yang disepakati dalam perjanjian antara Sekutu dan Jepang.
a) Kepulauan Jepang untuk sementara berada di bawah kontrol Amerika Serikat.
b) Kepulauan Kuril dan Sakhalin Selatan di serahkan kepada Uni Soviet dan Manchuria, sedangkan Taiwan diberikan kepada Cina. Kepulauan Jepang di Pasifik diduduki Amerika Serikat.
c) Korea akan dimerdekakan, namun untuk sementara wilayah ini dibagi menjadi dua daerah pendudukan dengan garis demarkasi 38 LU (lintang utara).
d) Penjahat perang harus dihukum.
e) Jepang harus membayar kerugian perang.
3) Perjanjian antara Sekutu dan Italia

Perjanjian antara Sekutu dan Italia dilaksanakan di Paris pada tahun 1945. Berikut beberapa hasil keputusan yang disepakati dalam perjanjian antara Sekutu dan Italia.
a) Daerah Italia diperkecil.
b) Abesinia dan Albania dimerdekakan kembali.
c) Trieste menjadi negara merdeka di bawah PBB.
d) Semua jajahan Italia di Afrika Utara diambil Inggris.
e) Italia harus membayar kerugian perang.
b. Perjanjian Perdamaian antara Sekutu dan Austria

Perjanjian perdamaian anatara Sekutu dan Austria dilaksanakan pada tahun 1945. Perjanjian tersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut.
a) Kota Wina dibagi atas empat daerah pendudukan di bawah Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet.
b) Syarat-syarat lain belum dapat ditentukan pada saat itu karena keempat negara tersebut (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet) belum dapat mengadakan persetujuan.
c. Perjanjian antara Hongaria, Rumania, Finlandia, dan Sekutu
Perjanjian antara Hongaria, Rumania, Finlandia, dan Sekutu dilaksanakan di Paris pada tahun 1945. Perjanjian gersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut.
a) Setiap negara tersebut diperkecil wilayahnya.
b) Setiap negara tersebut harus membayar ganti rugi perang.

Akhir Perang Dunia II

Secara resmi Perang Dunia II berakhir, yang ditandai dengan menyerahnya Jepang dari Sekutu setelah dua kota di Jepang (Hiroshima dan Nagasaki) dibom atom oleh Sekutu. Keadaan tersebut kemudian diikuti dengan serangkaian perjanjian perdamaian antara Blok Poros (Jerman, Italia, Jepang) dengan Blok Sekutu (Inggris, Prancis, Uni Soviet, dam Amerika Serikat).

Akibat Perang Dunia II

1) Dalam Bidang Politik
Berikut akibat Perang Dunia II di bidang politik.
a) Amerika Serikat/Sekutu keluar sebagai negara pemenang dalam Perang Dunia II.
b) Uni Soviet setelah Perang Dunia II menjadi kekuatan yang besar dan menjadi saingan bagi Amerika Serikat.
c) Jatuhnya imperialisme politik yang disebabkan munculnya nasionalisme di Asia dan mulai berkobar menentang imperialisme negara-negara Barat.
d) Balance of Power Policy mengakibatkan politik aliansi yang berdasarkan atas kemauan bersama sehingga timbul :
(1) NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau organisasi pertahanan Atlantik Utara dengan anggota Amerika Aerikat, Prancis, Belanda, Belgia, Luxemburg, Norwegia, dan Kanada. NATO didirikan pada tahun 1949 dengan markas besarnya di Brussel.
(2) METO (Middle Eastern Treaty Organization) atau organisasi pertahanan Timur Tengah dibentuk pada tahun 1955 terdiri dari Turki, Irak, Pakistan, dan Iran. Markas besar METO di Bagdad.
(3) SEATO (Southeast Asian TreatyOrganizationi) atau organisasi pertahanan Asia Tenggara yang dibentuk pada tahun 1954 dengan markas besarnya di Bangkok.
NATO, SEATO, dan METO adalah pertahanan yang dibentuk oleh Amerika Serikat. Sedangkan Uni Xoviet pada tahun 1955 membentuk Pakta Warsawa dengan markas besarnya di Warsawa, Polandia. Anggota Pakta Warsawa terdiri dari negara-negara Uni Soviet, Albania, Bulgaria, Cekoslavia, Jerman Timur, Hungaria, Polandia, dan Rumania.
2) Dalam Bidang Ekonomi
Berikut beberapa lembaga donatur di bidang ekonomi.
a) Truman Doctrine (1947), memberi bantuan ekonomi dan militer pada Yunani dan Turki.
b) Marshall Plan (1947), memberi bantuan ekonomi dan militer untuk membangun kembali ekonomi atas rencana yang terlebih dahulu dibuat oleh negara-negara Eropa dan disetujui oleh Amerika Serikat.
c) Colombo Plan (ciptaan Inggris), lembaga ini mengutamakan kerja sama antarnegara di bidang ekonomi dan kebudayaan.
3) Dalam Bidang Sosial
Di bidang sosial dibentuk UNRRA (United Nation Relief and Rehabilitation Administrationi) dengan membantu masyarakat yang menderita dalam bentuk :
a) mendirikan rumah sakit dan balai pengobatan,
b) memberi makan orang-orang yang terlantar,
c) mengurus pengungsi dan mempersatukan para anggota keluarga yang terpisah akibat perang, serta
d) mengerjakan kembali tanah-tanah yang rusak.
4) Dalam Bidang Kerohanian
Kesengsaraan yang berkepanjangan akibat Perang Dunia II mendorong manusia untuk mewujudkan perdamaian yang abadi, apalagi setelah LBB gagal dalam usaha menciptakan perdamaian. LBB dihapus dan diganti dengan United Nations Organization (UNO) atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).




Klik (X) kali tuk menutup
Dukung kami dengan ngelike fanspage ×