17 Contoh Naskah Drama Singkat beserta Unsur intrinsik dan ekstrinsik (tentang komedi, bahasa jawa, bahasa sunda, persahabatan, 4 orang perempuan)

Kali ini admin akan memberikan sebuah materi tentang 17 contoh teks naskah drama singkat beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik. Contoh naskah drama yang akan di bahas kali ini adalah tentang drama komedi, persahabatan, bahasa jawa, bahasa sunda, dan 4, 5, 6 orang.
17 Contoh Naskah Drama Singkat beserta Unsur ntrinsik dan ekstrinsik (tentang komedi, bahasa jawa, bahasa sunda, persahabatan, 4 orang perempuan)

Pengertian Teks Naskah Drama

Drama merupakan sebuah karya sastra yang ditulis dalam bentuk percakapan, obrolan, dialog, & nantinya bakal dipentaskan ataupun bakal dipertunjukkan di depan orang banyak. Drama juga biasa disebut dengan teater, jadi bisa dibilang contoh drama ini ada di teater.

Jadi singkatnya, drama ialah cerita yang disaapabilan dalam bentuk perbincangan & gerakan yang bakal dipentaskan di atas panggung ataupun di lokasi-lokasi tertentu.

Struktur Teks Naskah Drama

Drama dibangun atas beberapa unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun sebuah karya sastra yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri.

Sebelum menulis naskah drama ada beberapa hal yang sebaiknya dipahami terlebih dahulu yaitu struktur yang membangun naskah drama. perhatikan sebagai berikut.
  1. Plot/alur. Plot atau kerangka cerita, yaitu jalinan cerita atau kerangka cerita awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan.
  2. Penokohan dan perwatakan. Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Penokohan merupakan susunan tokoh-tokoh yang berperan dalam drama. Tokoh-tokoh itu selanjutnya akan dijelaskan keadaan fisik dan psikisnya sehingga akan memiliki watak atau karakter yang berbeda-beda.
  3. Dialog(percakapan). Ciri khas naskah drama adalah naskahnya berbentuk percakapan atau dialog. Dialog dalam naskah drama berupa ragam bahasa yang komunikatif sebagai tiruan bahasa sehari-hari bukan ragam bahasa tulis.
  4. Setting (tempat, waktu dan sarana). Setting disebut juga latar cerita yaitu penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya sebuah cerita.
  5. Tema (dasar cerita). Tema merupakan gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh antagonis dan protogonis dengan perwatakan yang berlawanan sehingga memungkinkan munculnya konflik diantara keduanya.
  6. Amanat atau pesan pengarang. Pesan dalam sebuah drama dapat tersirat dan tersurat. Pembaca yang jeli akan mampu mencari pesan yang terkandung dalam naskah drama. Pesan dapat disampaikan melalui percakapan antartokoh atau perilaku setiap tokoh.
  7. Petunjuk teknis/teks samping. Dalam naskah drama diperlukan petunjuk teknis atau teks samping yang sangat diperlukan apabila naskah drama itu dipentaskan. Petunjuk itu berguna untuk petunjuk teknis tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, musik, keluar masuk tokoh, keras lemahnya dialog, warna suara, dan sebagainya.

Contoh Teks Naskah Drama Singkat

berikut adalah contoh contoh teks naskah drama singkat tentang komedi, bahasa jawa, dan persahabatan.

Contoh 1

contoh 1 merupakan contoh teks naskah drama singkat tentang persahabatan beserta dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik.

Dendam Menghancurkan Persahabatan
Siang itu saat jam istirahat, empat orang siswa dan siswi yang sudah bersahabat sejak lama yaitu Melia, Rara, Florina, Fira dan Salsa sedang duduk santai di kantin.
Meisya : “Eh, kalian mau pesan minuman apa ?”
Rara                : “Aku es jeruk dong.”
Salsa                : “Aku juga es jeruk.”
Meisya                        : “Yaudah, semuanya es jeruk aja ya, biar sama.”
Florina             : “Iya gitu aja biar nggak kelamaan buatnya.”
Meisya                        : “Oke deh.” (sambil bangkit dan memesan minuman)
Fira                  : “Minumnya biar aku aja ya yang bayar. Udah lama banget nggak nraktir  kalian nih.”
Rara dkk          : “Makasih ya Hen.” (terlihat sangat senang)
Bel tanda masuk berbunyi.
Florina             : “Eh udah bel tuh. Ke kelas yuk !” (sambil berdiri)
Meisya dkk      : “Yuk !” (seraya bangkit dan mengajak teman yang lain)
Di kelas, pelajaran sudah di mulai. Ibu guru telah berada di depan kelas untuk melanjutkan pelajaran minggu lalu.
Guru                : “Anak-anak, seperti yang sudah Ibu tugaskan minggu lalu, kita akan belajar membuat telur asin. Silahkan kumpul dengan anggota kelompok masing-masing. Kemudian keluarkan barang-barang yang sudah ibu suruh bawa dan letakkan di atas meja.”
Florina             : “Kalian bawa barang yang udah dibagi kemarin kan ?”
Fira dkk           : “Bawa dong.” (mengeluarkan barang-barang dan menaruhnya di atas meja)
Salsa                : “Kok abu gosoknya banyak banget sih. Kita kan Cuma butuh dikit.”
Meisya            : “Emang segitu kok abu gosoknya.”
Fira                  : “Tapi setauku enggak sebanyak ini. Ini sih berlebihan.”
Rara                : “Emang segitu kok Hen.”
Florina             : “Kok kalian nggak percaya sih ? Bener kata Meisya dan Rara, abu gosoknya emang segitu.” (sedikit kesal)
Salsa                : “Tapi nggak sebanyak itu Flor. Iya kan Hen ?”
Fira                  : “Iya, nggak sebanyak itu. Sini biar aku aja yang ngerjain !” (mengambil abu gosok)
Meisya            : “Biar aku aja! Kalian itu nggak tau.” (mengambil abu gosok dari tangan Fira)
Melia, Rara, Florina, Fira dan Salsa saling berebut abu gosok dan akhirnya semua abu gosoknya tumpah dan mereka terjatuh.
Guru                : “Apa-apaan ini ? Kenapa abu gosoknya tumpah dan berantakan seperti ini ? Sekarang kalian bersihkan sampai bersih dan nilai kalian Ibu kurangi.” (terlihat marah)
Fira                    : “Gara-gara kalian sih, nilai kita jadi dikurangin !” (bicara pada Florina, Meisya dan Rara)
Rara                : “Kok jadi kita sih yang disalahin ? Itu semua kan gara-gara kamu!”
Salsa                : “Ini gara-gara kamu!”
Florina             : “Kalian sih ngrebut abu gosoknya ! Jadi kita yang kena impasnya.”
Mereka saling menyalahkan satu sama lain tanpa ada satupun yang mau mengalah dan minta maaf. Persahabatan mereka terpecah. Fira dan Salsa menjauh dari Florina, Meisya dan Rara. Mereka saling berencana untuk membalas dendam.
Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia, mereka sedang belajar di perpustakaan.
Florina               : “Eh eh eh, kalian kasih buku ini ke Salsa sama Fira. Biar mereka dimarahin sama Bu Guru. Biar tau rasa.” (berbisik-bisik dengan Meisya dan Rara sambil menyobek buku perpustakaan)
Meisya              : “Nih ada buku. Bu Guru nyuruh kalian baca.” (memberikannya dengan malas-malas)
Rara                  : “Ibu Guru! Lihat deh, Salsa sama Fira ngrobek buku perpustakaan !” (setengah berteriak sambil menunjuk Salsa dan Fira)
Guru                  : “Apa yang kalian lakukan sama buku itu ? Dasar anak nakal, selalu saja berulah. Sekarang kalian ibu hukum untuk merapikan buku di perpustakaan ini!” (sangat marah)
Fira                    : “Tapi bukan kita Bu pelakunya. Kita Cuma dijebak.”
Guru                  : “Tidak usah banyak alasan ! Jalani saja hukuman yang Ibu berikan!”
Salsa                  : “Baik Bu.”
Saat di kelas, Ibu Guru sedang menjelaskan pelajaran, namun Florina, Meisya dan Rara justru ramai sendiri dan mengobrol di kelas. Ibu Guru yang melihatnya menjadi jengkel dan marah karena merasa tidak dihargai.
Guru                : “Rara, Florina, Meisya ! Apa yang sedang kalian lakukan ? Ibu sedang menerangkan tapi kalian justru ramai sendiri. Sudah merasa pintar ?”
Meisya                        : “Engenggak Bu. Maafkan kami.”
Guru                : “Kalian Ibu hukum karena terlalu sering berbuat onar. Sepulang sekolah, kalian bertiga bersihkan kelas sampai bersih.”
Florina             : “Ta tapi Bu”
Guru                : “Tidak ada tapi-tapian. Lakukan saha tugas kalian.”
Sepulang sekolah, Florina, Meisya, dan Rara melaksanakan hukuman yang diberikan Ibu Guru. Setelah selesai, Salsa dan Fira menghampiri mereka bertiga.
Florina             : “Mau apa kalian ? Mau mengejek kami ?”
Fira                  : “Kita capek musuhan terus terus sama kalian. Lebih baik kita baikan dan bersahabat lagi.”
Rara                : “Benar kata Fira. Kita jadi sering dihukum karena saling mecoba balas dendam.”
Meisya            : “Aku juga setuju dengan mereka.”
Salsa                : “Aku juga.”
Florina             : “Sebenernya, aku juga ngerasa kaya gitu. Kalo gitu, maafin kami ya.”
Fira dan Salsa: “Iya, maafin kita juga ya. Kita sahabatan lagi kan ?”
Rara                : “Tentu. Jangan pernah marahan lagi kaya kemarin ya.”
Mereka berlima akhirnya saling bermaafan dan kembali bersahabat seperti dahulu. Tidak ada permusuhan lagi diantara mereka.




·         Unsur Intrinsik

o  Judul                       : Dendam Menghancurkan Persahabatan
o  Tema                      : persahabatan
o  Latar                       :
-          Tempat            : kantin, ruang kelas, perpustakaan
-          Waktu              : siang hari, saat istirahat, saat pelajaran, saat pulang sekolah
-          Suasana           : bahagian, haru, marah, kesal
o  Alur                         : maju
Permulaan               : Florina, Meisya, Rara, Slasa dan Fira mereka dalah lima orang siswi di salah satu sekolah yang sudah bersahabat sejak lama.
Pengenalan masalah: Salsa dan Florina saling berargumen menganai jumlah abu gosok yang akan mereka gunakan, Fira membela Salsa sedangkan Meisya dan Rara membela Florina.
Puncak masalah       : Persahabatan mereka terpecah menjadi dua. Salsa dengan Fira sedangkan Florina dengan Meisya dan Rara. Dua kubu yang dulunya sahabat itu saling mencoba untuk membalas dendam.
Penurunan                : Akhirnya mereka sadar bahwa permusuhan mereka hanya disebabkan oleh hal yang sangat kecil, mereka lalu saling minta maaf.
Penyelesaian            : Mereka berlima bersahabat kembali.
o  Bahasa                    : mudah dipahami dan menggunakan bahasa sehari-hari.
o  Tokoh                      : Florina, Meisya, Rara, Salsa Fira, Guru
o  Penokohan              :          
-          Florina : keras kepala, tidak mau mengalah, pemaaf
-          Meisya            : pemaaf
-          Rara    : pemaaf
-          Fira      : pemaaf
-          Salsa    : keras kepala, tidak mau mengalah, pemaaf
-          Guru    : tegas, bijak

·         Unsur Ekstrinsik
§  Nilai Moral :
o   Jangan saling menyimpan dendam kepada teman maupun kepada orang lain.
o   Rendah hati terhadap siapapun.
o   Suka memberi dan mengasihi antar sesama teman. 


§  Nilai sosial :
o   Menjaga persahabatan di antara teman merupakan hal penting
o   Pendapat masing-masing orang berbeda-beda maka seharusnya kita menghormati dan menghargai masing-masing pendapat tersebut.
§  Nilai budaya :
o   Siapa yang berbuat salah maka dia yang akan mendapat hukuman.
o   Seseorang yang berbuat salah kepada orang lain maka dia yang harus meminta maaf.

Contoh 2

contoh kedua merupakan contoh naskah drama tentang komedi singkat

Judul Drama : Menonton Televisi

Pemeran : Adit, Dirham, Rani, dan Budi

Karakter Tokoh : Adit (jahil dan usil), Dirham (Mudah dipengatuhi), Budi (lugu), Rani (Selalu ingin tahu), Mirna (Pemarah)

Sipnosis Drama :

Suatu ketika di malam hari pada saat sedang mati listrik pada jam-jam sinetron kartun kesayangan anak-anak. Adit sengaja keluar rumah untuk memberitahukan kepada teman-temannya, bahwa di rumahnya tetap bisa menonton televisi meski sedang mati listrik. Ia pun bergegas mengumpulkan teman-temannya di dekat alun-alun desa.

Dialog drama :

Adit : Hei, teman-teman. Ayo ke rumahku! Di rumahku kalian tetap bisa menonton televisi meskipun mati listrik.

Budi : Kamu bercanda ya Dit? Gelap-gelap begini, lampu penerangan saja tidak menyala. Kamu malah mengajak kami menonton televisi.

Rina : Bercandamu tidak lucu Dit. Malas aku.

Dirham : Hati-hati teman-teman, kalian bisa saja dikerjai oleh Adit. Aku paham betul bagaimana tingkah polahnya. Dia kan sangat jahil dan suka mengerjai teman-temannya.

Baca Juga:   Contoh Naskah Drama 6 Orang Tentang Pendidikan
Budi : betul itu. Aku tidak akan tertipu.

Mirna : Aku dulu pernah tertipu olehnya. Sekarang ini tidak akan lagi. Awas ya kalau kamu berani berbohong!

Adit : Ya Ampun, sungguh. Aku tidak berbohong. Aku masih bisa menonton acara telivisi meski saat ini sedang mati listrik. Apa di rumah kalian bisa?

Dirham : Ya tentu saja tidak bisa. Kan listriknya sedang mati.

Rina : Logika dari mana itu Dit? Mati listrik begini kamu masih bisa menonton televisi.

Mirna : Aku tidak percaya kata-katamu!

Budi : Betul itu.

Adit : Tenang dulu, sabar-sabar. Biar aku jelaskan dulu. Kalian kan tidak bisa menonton televisi di rumah masing-masing, betul kan?

Budi, Rina, Mirna, Dirham : Jelas, kan sedang mati listrik.

Adit : memang betul sekarang sedang mati listrik dan televisi di rumah kalian tidak bisa hidup karenanya. Tapi pengecualian di rumahku ini, televisi tetap bisa ditonton walaupun sedang mati listrik.

Rina : benarkah yang kau katakan itu Dit?

Dirham : Kau tidak bohong kan?

Budi : Sulit dipercaya.

Adit : Kalau tidak percaya, kalian bisa ke rumahku sekarang. Biar kita bisa menonton televisi bersama-sama.

Contoh 3

Contoh 3 merupakan contoh teks naskah drama singkat tentang bahasa jawa.
SOMBONG ISO NGRUSAK KEKANCAN

Sule , Asri ,Rege,lan Vega uwis suwe dadi konco. Cah papat kuwi dasare anake wong sugih. Kerep jajan bareng-bareng kerep seneng-seneng bareng. Ananing ,, kabeh dadi maleh  pas bapake Rege bangkrut.
Neng ruwang kelas pas agek piket.

Rege                    : Man, , , aku, ennntuk njaluk tulung ra’
Suleman              : (etok-etok ra krungu)
Rege                    : wee..!! man! Njuk tulung entuk raa?! Tulung balekno sapu iki sisan , kowe yo wis rampung nyapune too..!
Suleman              : appa. .! mbalekke. . ra suddi. !
Rege                    : asem ik, kowe i bar mangan opo to Man. Ko ndengaren Jutex men karo aku. .
Suleman              : arep ngoppo. Mangan opo yo uduk urusanmu!! Wis minggiro kono!
Asri                      : wis-wis, kowe i do ngopo to. Ko ‘ kerenagn wae. Nak eneng masalah ki yo mbok di omongke apek-apek...
Vega                     : ho oh. . . lha ngopo to Man , kok kowe koyo  nesu karo Rege ngono.
Rege                     : (nyelehke sapune)  owwraa’ !soppo seng kondo. Awake dewe apek-apek ae to Man.
Suleman               : Ra! Aku saiki ra seneng karo kowe, kowe saiki mlarat, wis do minggir- minggir!
(Lungo  neng mburi karo nggowo sapu)
Asri                       :Sek yo. . tak marani Sule disik ( Lungo)
Vega                     : (gedeg-gedeg) Yo wiis. . . sante haeee. . pancen Suleki wonge ngonno. . Ra sah mbok pikir. .
Rege                     : Haaah. .ck . .laiyyo to Peg. Aku yo ra ngiro suleman ngono. Jebolno wonge sombong banget.
Vega                     : ssst ojo banter2 wonge ndak krungu.
 (KRUNGU SUORO BEL) Ho. .! wis bel. Gek balekno sek sapune.

Wis pirang-pirang ndino Rege karo Sule ora dolan bareng. Sule milih dolan karo Asri lan cah sugeh-sugeh liyane. Terus, sak wijine esok
Asri                        : Sul, kowe ngerti ra’
Sule                        : oppo !
Asri                        :  Aku nduwe Hp anyar . lho iki. . isoh di pencet – pencet layare lho, kowe Ra nduwe to. .
Sule                        : eh. Ho oh apike, oppo merk e. Regane piro?
Asri                        : iki Hp. Regane murahh. .  mung Rp. 6.789.000,-. Smart phone lho iki.
Narator                  :   padahal kuwi mung seng nyileh. .!
Sule                       : Halah. Mung semono to regane . kecil no. Bapakku kan bozzz . .
Asri                        : (Kaget) wuss. .! elok tenan . yo wis sesok tukuwo yo, seng luwih apek soko iki.
Sule                       : (dg pdne sule omong.) iyyo. .gampang . . bisa diatur . .
Asri                        : hallah . .!

Wektu muleh sekolah. Suleman wis tekan ngomah. Terruss . . . . langsung . . . .

Sule                       : Pak, pak e tukok ne Hp! !
Bpke                      : heh! Oppo! Nyerako rene!
Sule                       : pak. Anu . .tukok ne Hp Pak. .
Bpke                      : oppo! Tuku Hp! Meneh! Lha Hpmu seng kuwi arep kok nggo oppo.
Sule                       : iki. . .kurang apek,. . ungsume saiki Hp seng isohdi pijet layare. .
Bpke                      : ( njane arep nganndani, neng ora kuwat, dadi bpke nyeluk ibuke. . ) Buk . . .! buke. . . .
Mboke                  : yo. . kosek . . enek oppo to pak. .
Bpk                       : (ngei isyarat) kandanono anakmu kono . .!
Mboke                  : lLee . . ., ngene lho. Takkandani yo. Neng ojo kaget!
Sule                      : enek oppo to Buk?!
Mboke                  :  piye yo( menghirup napas panjang. . ancang- ancang. .siap. .Yakk!) Bapakmu ki agaek eneng masalah eneg kantore, eneng klienne bapakmu seng wis marai rugi perusahaan. .
Sule                       : maksude . .
Mbkke                  : yoo . . kowe ra iso tuku Hp. Bapakmu kapusan. . mulo awake dewe kudu hemat , ra sah tuku sek ra penting. Omah iki, sesok kudu ditinggalke, keluarga iki kudu golek omah seng luwih sedrhana . terus omah iki. Di dol.
Sule                       : OppO . . .!!  –OH tidak munggkiin . . .!!!-  maksude bangrut.
(Ngawaske drijine . . terus. .) ora urusan! Pokoke kudu tuku Hp!  Titik!!
Bpke                      : ( Brakkkk!!) We!!, ra sah ngeyel, mbok yo ngerti keadaane wong tuwo sitik ngono lhooo!
Sule                       : neng . . . neng . . ak aku. .
Bpke                      : ra enek neng-neng an, pokoke kowe kudu hemat!
Sule                       : asem!(lungo neng kamare)
Bpk                        : we, ngopmong oppo kowe. . (lingguh)
Kurang ajar banget cah kuwi . .!
Bpk                        : salahe soppo seng manjakke. .  banget2
Bpke lan Mboke: (melepaskan napas panjang. . . siap. . yak .!) Haaa a a a a a . . . .

Bpke                      : mboke, piye nek saiki ngejak sule neng  “ ngenndi”  ngono?
Mbok: Lha  neng ngendi. .?
Bpke                     : wis kuwi rahasia. Pokoke celuken Sule, nek ora gelem kondo wo arep di tukokne Hp.
Mboke                 : yoo
Mboke                 : Sule, rene osek le. . arep di jak bapk mu
Sule                       : yo ( moro) arep sido ditukok ne Hp to Buk.
Mboke                 : yo emmbuh, pokoke melu o bpk mu sek.
Suleman karo Bapke numpak mobil neng “ngendi” ngono. Terus , Sule mikir. . Lho kok aneh, ambune ngapusi iki. .
Sule                       : (miduk soko mobil), lho kok rene ngopo rene, ora arep teku Hp to.?
Narator: mesti do penasaran to iki neng ngendi, yo wis, wis saate tak kandani. Asinooo. . iki neng perkampungan pemulung)
Bpke                      : cobo deloken uwong-uwong kuwi. . saben dino kerja keras gor dinggo Madang, awake dewe kudune ber sukur wis urip kecukupan saben dino. Kowe kudune ngerti , uwong –uwong iki ora saben dino iso mangan, sok2 mangan mor nganggo sego aking. Tak kandani yo lee. . urip ki ora mesti neng nduwur  terus utowo neng  ngisor  terus. Nek awake dewe tau sugeh, awake dewe yo kudu siap dadi mlarat. Ngerti. . .
Sule                       : . . . . .  ngrtos pak. .
Bpke                      : ngerti tenan rak?!! Dadi sido tuku Hp ra’?!!
Sule                       : mboten mawon pak. Pak .  kulo nyuwun gapunten geh pak. Kulo pun sadar. .
Bpk                        : lha ngono no, yo tak ngapuro, ra po po, neng ndengaren kowe nganggo boso kromo karo bpk he le??!
Sule mikir nek sesok arep njaluk ngapuro karo Rege lan dadi koncone meneh.
Esok wis teko, pas arepe bel masok. .
Sule                       : Rege, !
Rege                      : ngopo lee. Jarene ra pengen kenal meneh karo aku. .
Sule                       : s sopo seng kondo??
Rege                      : yo wis arep ngomong opo?!
Sule                       : ngene. . anu. . a aku . .njaluk ngapuro yoo . .(karo ngejak salaman)
Rege                      : Ra’! Ra nduwe ngapuro!
Sule                       : Ha!
Rege                      : Ora-ora, mung gojek, yo genah tak ngapurolah.(nggegem tangane Sule)
Vega                      : Lha mbok ngono. .  mung konco kak mbiyen kok arep mungsuhan. . ho oh ra Sri . .
Asri                        : yo . . ho oh! Terus kowe sido tuku Hp ra’?
Sule                       : Ora kok Sri. Eeem. . Bapakku kapusan. Saiki keluarga ku lagi krisis. .
Asri                        : Oowwww
Rege                      : Ho oh To Le, yo wis ra popo. Sante ae. Mesti enek “jalan keluare” pokoke gawe kepenak ae. .
Sule                       : Bener kondomu Ge. .
Teett. . .Teett. . bel mlebu

Contoh 4 

contoh keempat adalah contoh teks naskah drama tentang bahasa sunda untuk 5 orang

Kabayan Ngala Nangka 
Drama sunda komedi untuk 5 orang. 



Nyi Iteung, pamajikanana Kabayan teh nuju hamil ngora. Manehna teh ngidam hoyong pisan Nangka, tapi si Kabayan nu dasarna kebluk, tara daek ngala Nangka. Dina hiji isuk, Iteung nyamperkeun Kabayan nu keur sasarean di bale hareupeun imah. 

Iteung : (Ngagangguan Kabayan) Kang, hayu atuh pang alakeun Nangka kanggo Iteung! 

Kabayan : (Melek hiji soca, langsung sare deui) Haduh, Nyai, engke weh nya, isukan. Akang teh tunduh keneh! 

Iteung : (Ngambek) Huh, si Akang mah teu sayang ka Iteung! 

Kabayan : (Ngorok) 

Saking keheulna, Nyi Iteung angkat ka bumi emakna Kabayan. Sanepina di bumi emakna Kabayan. 

Iteung : (Lumpat sabari ceurik langsung nangkeup emak) Emaaakkkkk.... 

Emak Kabayan : (Reuwas) Eleuh-eleuh, aya naon ieu, Nyai? 

Iteung : Eta, Ma! Si Kabayan! Kuring teh ngidam, hoyong pisan Nangka, tapina manehna tara daek pangalakeun! 

Emak Kabayan : Geus tong ceurik atuh! Keun weh, Emak nu ngomong ka si Kabayan! 

Emak sareng Iteung balik ka imah Kabayan. Sanepina di imah Kabayan, Emak sareng Iteung ningali Kabayan nu sare keneh dina bale. 

Emak Kabayan : Heh! Kabayan, kebluk! Hudang sia! 

Kabayan : Naon sih mak? Isuk-isuk geus adat-adatan! 

Emak Kabayan : Maneh teh kumaha sih! Geus nyaho si Iteung keur hamil, ngidam Nangka! Lain mah diturutkeun kahayangna! Malah gogoleran teu puguh! 

Kabayan : Heueuh mak, sakedeung deui dipangalakeun! 

Emak Kabayan : Buru! Ayeuna geura mangkat neangan Nangka! Nu kolot nya, Nangkana! 

Kabayan : (Hudang) Heueuh! Kuring mangkat ayeuna lah! 

Kabayan mangkat neangan Nangka. Tapi Kabayan teu terang, tangkal Nangka nu keur buahan teh dimana. Sapanjang jalan, manehna luak-lieuk neangan Nangka. Akhirna manehna manggih hiji tangkal Nangka nu buahna leubeut. 

Kabayan : Hahhh! Akhirna kuring manggihan Nangka! Karolot deui Nangkana! 

Kabayan langsung naek ka tangkal Nangka nyokot hiji Nangka nu pang kolotna. Teu lila anu boga kebon datang. Kabayan langsung turun ti tangkal Nangka. 

Kabayan : Haduh kumaha ieu! Nyi Ndit datang! Mana kacida galakna deui! 

Kabayan lumpat ka ragasi nu aya di tukangeun kebon. Kabayan malidkeun eta Nangka. 

Kabayan : Nangka, jung balik tiheula nya! Kuring rek kabur heula! 

Nangka teh kabawa palid ku cai, teu lila, nu boga kebon datang. 

Nyi Ndit : Heh! Sia keur naon di kebon aing! Maneh rek maling? 

Kabayan : Henteu Nyai. 

Nyi Ndit : Ah sia! Alesan wae! Ngaku weh ari rek nyopet mah! 

Kabayan : Bener Nyai, teu bohong! 

Nyi Ndit : Demi naon sia, Kabayan? 

Kabayan : Demi Nyi Iteung, Nyai! 

Nyi Ndit : Alah, sia! Nyopet mamawa ngaran pamajikan! Hayu milu jeung urang! Urang ka imah Pa RT! 

Kabayan : Duh, nyai! Ulah atuh! Bener abdi teh teu nyopet! Sok mana barang buktina! 

Nyi Ndit : (Mariksa Kabayan) Heueuh geuning, euweuh! Jung geura mangkat, sia! Ulah kadieu deui! 

Kabayan : (Lumpat) Dadah, Nyai!! 

Kabayan balik ka imahna. Dipapag ku Emak jeung Iteung. 

Iteung : Euleuh, akang! Tos dongkap? 

Emak Kabayan : Meunang teu Nangka teh? 

Kabayan : Meunang atuh, mak! Kolot jeung gede deuih! 

Iteung : Mana atuh Nangkana, Kang? 

Kabayan : Hoh? Can nepi eta Nangka? 

Emak Kabayan : Hah? Nepi kumaha, Kabayan? 

Kabayan : Si Nangka teh dipalidkeun, dititah balik tiheula ku kuring! Geuningan can nepi? Apan eta Nangka teh tos kolot, piraku teu nyaho jalan balik! 

Iteung : Heueuh nya, Kang! Eta Nangka teh geuning teu nyaho jalan balik! 

Emak Kabayan : Ari sia! Ku belet-belet teuing, Kabayan! Maenya Nangka bisa balik sorangan! Teu hideng! 

Kabayan : Yeuh, si Nangka nu teu hideng mah, Mak! 

Emak Kabayan : Hah, ngimpi naon, kuring teh boga anak belet kos sia! 

Emak langsung mangkat. Kabayan sareng Iteung, ngantosan eta Nangka di sisi ragasi, tapi Nangkana teu datang-datang.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar

Klik (X) kali tuk menutup
Dukung kami dengan ngelike fanspage ×