Hubungan Dekolonisasi di Asia Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara

Hubungan Dekolonisasi di Asia dan Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara, Pasca-Perang Dunia II membawa pengaruh yang sangat berarti bagi perkembangan pergerakan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika. Semangat nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan di negara-negara Asia dan Afrika mencapai puncaknya dengan memproklamasikan dirinya sebagai negara merdeka, sehingga terjadilah dekolonisasi di Asia dan Afrika.

Hubungan Dekolonisasi di Asia Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara

Hubungan Dekolonisasi di Asia dan Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara

1. Dekolonisasi di Asia Afrika
Pasca-Perang Dunia II membawa pengaruh yang sangat berarti bagi perkembangan pergerakan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika. Semangat nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan di negara-negara Asia dan Afrika mencapai puncaknya dengan memproklamasikan dirinya sebagai negara merdeka, sehingga terjadilah dekolonisasi di Asia dan Afrika.

a. Singapura
Singapura menjadi Cown Colony dari Kerajaan Inggris pada tahun 1946. Kedudukan Singapura sama dengan negara-negara di Malaka. Selanjutnya Singapura mendapat pemerintah sendiri sebagai negara merdeka pada tahun 1959. Pada bulan November 1963 Sabah, Serawak, dan Singapura bergabung dengan Malaysia. Namun, kemudian Singapura menarik diri dari Malaysia sejak tanggal 9 Agustus 1965 dan menjadi Republik Singapura sampai sekarang.

b. Indonesia
Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang pada waktu terjadi Perang Pasifik. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada bukan Agustus 1945 di Indonesia terjadi vacum of power. Akhirnya Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan presidennya Ir. Soekarno dan Moh. Hatta sebagai wakil presiden.

c. Kamboja
Pada waktu Perang Dunia II untuk sementara Kamboja diduduki oleh Jepang. Setelah Perang Dunia II berakhir, Kamboja dikuasai kembali oleh Prancis. Namun pada tanggal 9 November 1953, Kamboja berhasil memerdekakan diri dan sejak itu Norodom Sihanouk berkuasa penuh di Kamboja. Untuk lebih memusatkan perhatiannya pada bidang politik pada tahun 1955 Norodom Sihanouk melepas jabatan raja dan memegang jabatan perdana menteri.

d. Kenya
Kenya merupakan daerah pengaruh Jerman dan Inggris, namun kemudian menjadi jajahan Inggris. Pada tahun 1963 lahir gerakan nasional pertama yaitu dengan dibentuknya organisasi Kenya Afrian Union (KAU) dengan ketuanya Jomo Kenyata. Dalam pemilihan umum tahun 1963 KAU memperoleh kemenangan dan Kenya berpemerintahan sendiri dengan Jomo Kenyata sebagai Perdana Menteri. Kemudian pada tahun 1964 Kenya menjadi republik dengan presiden Jomo Kenyata.

e. Tunisia
Tunisia merupakan negara jajahan Prancis. Pada waktu Prancis di bawah pimpinan Perdana Menteri Pierre Mendez France, Tunisia diberi otonomi. Namun, kaum nasionalis tidak puas dan menuntut kemerdekaan. Akhirnya Prancis memberi kemerdekaan kepada Tunisia tahun 1956 dengan presiden pertamanya Habib Destour.

2. Hubungan Dekolonisasi di Asia Afrika dengan Transformasi Politik dan Sosial di Berbagai Negara

Negara-negara yang baru merdeka tidak selamanya merasa bergantung dengan negara bekas penjajah. Negara-negara yang baru merdeka harus berusaha menunjukkan kebenaran dan mengambil peranan dalam kehidupan dunia. Berbagai usaha untuk meredakan ketegangan di antara dua blok (Blok Barat dan Blok Timur) dan meghapuskan kolonialisme menjadi agenda yang penting bagi negara-negara yang baru merdeka.

Setelah merdeka, bangsa Indonesia berusaha tampil dalam percaturan dunia untuk ikut menciptakan perdamaian. Sebagai bentuk keikutsertaan dalam menciptakan perdamaian dunia, bangsa Indonesia menyelenggarakan kegiatan-kegiatan berikut.
a. Konferensi Asia Afrika (KAA)
1) Latar Belakang KAA
Politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif. Bebas artinya bangsa Indonesia tidak memihak pada salah satu blok yang ada di dunia dan aktif artinya bangsa Indonesia secara aktif ikut mengusahakan terwujudnya perdamaian dunia. Bangsa Indonesia memilih sifat politik luar negerinya bebas aktif karena setelah Perang Dunia II berakhir, muncul dua kekuatan adidaya yaitu Amerika Serikat yang memelopori berdirinya Blok Barat atau Blok kapitalis dan Uni Soviet yang memelopori munculnya Blok Timur atau sosialis.

Untuk meredakan ketegangan dan mewujudkan perdamaian dunia, bangsa Indonesia memprakarsai dan menyelenggarakan KAA. Usaha bangsa Indonesia ini mendapat dukungan dari negara-negara di Asia dan Afrika. Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada umumnya pernah menderita karena penindasan imperialis Barat, mereka merasa senasib. Rasa setia kawan ini dicetuskan dalam KAA. Prakarsa untuk mengadakan KAA dikemukakan pertama kali oleh Perdana Menteri RI Ali Sastroamijoyo yang kemudian mendapat dukungan dari negara India, Pakistan, Sri Langka, dan Burma (Myanmar) dalam Konferensi Kolombo.

Berikut latar belakang dan dasar pertimbangan diadakan KAA.
a) Kenangan kejayaan masa lampau dari beberapa negara di kawasan Asia Afrika.
b) Perasaan senasib sepenanggungan karena sama-sama merasakan masa penjajahan dan penindasan bangsa Barat, kecuali Thailand.
c) Meningkatnya kesadaran berbangsa yang dimotori oleh golongan elite nasional atau terpelajar dan intelektual.
d) Adanya Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur.
e) Memiliki pokok-pokok yang kuat dalam hal bangsa, agama, dan budaya.
f) Secara geografis letaknya berdekatan dan saling melengkapi satu sama lain.
2) Konferensi Sebelum Dilaksanakan KAA
Sebelum KAA dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan konferensi pendahuluan sebagai persiapan. Berikut konferensi pendahuluan sebelum dilaksanakan KAA.

a) Konferensi Kolombo (Konferensi Pancanegara I)
Konferensi Kolombo diselenggarakan di Kolombo, Sri Langka pada tanggal 28 April - 2 Mei 1954. Konferensi Kolombo dihadiri oleh lima perdana menteri sebagai berikut.
(1) Perdana Menteri Pakistan : Muhammad Ali Jinah
(2) Perdana Menteri Sri Langka : Sir John Kotelawala
(3) Perdana Menteri Burma (Myanmar) : U Nu
(4) Perdana Menteri Indonesia : Ali Sastroamijoyo
(5) Perdana Menteri India : Jawaharlal Nehru
Konferensi Kolombo membahas masalah Vietnam sebagai persiapan untuk menghadapi konferensi di Jenewa. Secara aklamasi, Konferensi Kolombo memutuskan akan mengadakan KAA dan bangsa Indonesia ditunjuk sebagai penyelenggara. Kelima negara yang wakilnya hadir dalam Konferensi Kolombo kemudian dikenal dengan nama Pancanegara. Konferensi Kolombo juga dikenal dengan nama Konferensi Pancanegara I.
b) Konferensi Bogor (Konferensi Pancanegara II)
Konferensi pendahuluan yang kedua diselenggarakan pada tanggal 22-29 Desember 1954 di Bogor. Konferensi Bogor dihadiri oleh perdana menteri negara-negara peserta Konferensi Kolombo. Berikut ini hasil keputusan Konferensi Bogor.
(1) KAA diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955.
(2) Penetapan tujuan KAA dan menetapkan negara-negara yang akan diundang sebagai peserta KAA.
(3) Hal-hal yang akan dibicarakan dalam KAA.
(4) Pemberian dukungan terhadap tuntutan Indonesia mengenai Irian Barat.
3) Pelaksanaan KAA

KAA sesuai dengan rencana diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955. KAA dihadiri oleh wakil-wakil dari 29 negara yang terdiri atas negara pengundang dan negara yang diundang. Negara pengundang meliputi Indonesia, India, Pakistan, Sri Langka, dan Burma (Myanmar), sedangkan negara yang diundang ada 24 negara terdiri dari 6 negara Afrika (Mesir, Sudan, Etiopia, Liberia, Libia, dan Ghana/Gold Coast) dan 18 negara Asia (Filipina, Thailand, Kamboja, Laos, RRC, Jepang, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Nepal, Afghanistan, Iran, Irak, Saudi Arabia, Syria (Suriah), Yordania, Lebanon, Turki, dan Yaman). Negara yang diundang dalam KAA namun tidak hadir adalah Rhodesia/Federasi Afrika Tengah. Ketidakhadiran tersebut dikarenakan di Rhodesia masih dilanda pertikaian dalam negara/dikuasai oleh Inggris.
Berikut tujuan diadakan KAA.
a) Memajukan kerja sama bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
b) Memberantas diskriminasi ras dan kolonialisme.
c) Memperbesar peranan bangsa Asia dan Afrika di dunia dan ikut serta mengusahakan perdamaian dunia dan kerja sama internasional.
d) Bekerja sama dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya.
e) Membicarakan masalah-masalah yang menyangkut kepentingan negara-negara Asia dan Afrika dan negara-negara di dunia, konferensi mengambil beberapa keputusan penting sebagai berikut.
a) Memajukan kerja sama bangsa-bangsa Asia dan Afrika di bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
b) Menuntut kemerdekaan bagi Aljazair, Tunisia, dan Maroko.
c) Mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat dan tuntutan Yaman atas Aden.
d) Menentang diskriminasi ras dan kolonialisme dalam segala bentuk.
e) Aktif mengusahakan perdamaian dunia.
4) Arti Penting KAA

KAA berpengaruh sangat besar dalam rangka menciptakan perdamaian dunia dan mengakhiri penjajahan di seluruh dunia secara damai, khususnya di Asia dan Afrika. Semangat KAA untuk tidak memihak Blok Barat maupun Blok Timur telah mendorong lahirnya gerakan nonblok. Berikut arti penting KAA.
a) Merupakan pendorong kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk lepas dari kekuasaan imperialisme dan kolonialisme Barat.
b) Menjadi pendorong lahirnya GNB.
c) Merupakan pencetus semangat solidarisme dan kebangkitn negara-negara Asia dan Afrika dalam menggalang persatuan.
d) Memberikan harapan barru bagi bangsa-bangsa yang sudah maupun yang belum merdeka.
e) Mulai diikutinya politik luar negeri bebas dan aktif yang dijalankan oleh Indonesia, India, Myanmar, dan Sri Langka.
f) Kembali bangkit dan sadarnya bangsa-bangsa Asia dan Afrika akan potensi yang dimiliki.
g) Diakuinya nilai-nilai Dasasila Bandung oleh negara-negara maju karena terbukti memiliki kemampuan dalam meredakan ketengangan dunia.
h) Mulai dihapuskannya praktik-praktik politik diskriminasi ras oleh negara-negara maju.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Klik (X) kali tuk menutup
Dukung kami dengan ngelike fanspage ×